| Nanang Supena, Yurna Yenni, dan Abdul Razak Purba | Hibrida dumpy yang dihasilkan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) diperoleh dari keturunan dumpy yang diintroduksi dari Kebun Elmina di Malaysia (E206) dan ditanam di Sei Pancur pada 1957, kemudian disilangkan dengan pisifera SP 540 Tself. Dura Dumpy yang sama juga ditanam di Kebun Pabatu pada 1956 dan keturunan dari hasil silang dirinya (Dy28D, Dy58D dan Dy59D) ditanam di Kebun Bah Jambi pada 1982 dan dikenal sebagai lini Pabatu. Beberapa dari keturunan dumpy tersebut disilangkan dengan pisifera Marihat x Nifor dan LaMé, dan diharapkan dapat berkontribusi dalam perbaikan produksi minyak dan komponen tandannya. Percobaan dilakukan di Kebun Rambutan, PT Perkebunan Nusantara III, tahun tanam 1993. Komponen produksi, analisis minyak, dan karakter vegetatif dari 12 persilangan DyP dievaluasi pada 4 sampai 9 tahun setelah tanam, dengan pembanding rerata percobaan pengujian DxP/T dari program pemuliaan RRS (Reciprocal Recurrent Selection) siklus kedua. Hasil pengamatan menunjukkan hibrida Dumpy x LaMé memiliki jumlah tandan dan bobot TBS yang lebih tinggi dibandingkan dengan rerata percobaan pengujian DxP/T siklus II, yaitu masing-masing 16,9 tandan dan 223,51 kg /pohon/tahun. Sedangkan komponen minyak per tandan yang dimiliki hibrida Dumpy x BO 524 P (Marihat x Nifor) lebih tinggi dibandingkan hibrida DyP lainnya dan juga bila dibandingkan dengan percobaan pengujian DxP/T siklus II. | In Situ Reactive Extraction of Palm Kernel Catalyzed By Lipase Enzyme | | T. Herawan, M. Rusch gen. Klaas, and S. Warwel | Suatu metoda ekstraksi sekaligus reaksi secara in situ menggunakan katalis lipase telah dikembangkan untuk mendapatkan proses pembuatan alkil ester yang ramah lingkungan. Pada metoda ini, dialkil karbonat seperti metil dan etil karbonat digunakan sebagai pelarut sekaligus juga sebagai substrat. Ekstraksi sekaligus reaksi secara in situ ini dilakukan dengan menggunakan perbandingan pelarut/biji sekitar 7,5ml/g dan suhu 60 oC selama 24 jam. Sejumlah tertentu air ditambahkan kedalam pelarut untuk untuk mempelajari pengaruhnya terhadap hasil ekstraksi dan ester yang terbentuk. Laju pembentukan ester tertinggi terjadi pada saat tidak adanya penambahan air ke dalam sistem, namun demikian, dengan penambahan 0,2% air ke dalam pelarut, setelah 24 jam ekstraksi sekaligus reaksi, diperoleh hasil ekstraksi sebanyak 59% (b/b biji) dan sekitar 90% kandungannya adalah ester. | Phylogenetic Analysis of Pathogenic Ganoderma in Oil Palm Based on Manganese Superoxide Dismutase (Mn- SOD) GENE | | Condro Utomo, F. Niepold, D. Tambajong and H.B. Deising | Pasangan primer Mn-SOD 1 (5`CTCCACCACAAGAAGCACCAC`3) and Mn-SOD 2 GGCGTGCTCCCAGATGTC`3) yang didesain dari sekuen nukleotida pada asam amino LHHKKHH and DIWEHAF dari gen Mn-SOD dari G. boninense RSH RS digunakan untuk mengisolasi gen Mn-SOD Ganoderma asal kelapa sawit. Primer ini dalam polymerase chain reaction menghasilkan produk PCR berukuran kira-kira 700 pb. Metoda multiple sequence alignment digunakan untuk mengkonstruksi pohon kekerabatan dan sebagai hasilnya menunjukkan bahwa Ganoderma asal kelapa sawit mengelompok pada G. boninense LKM. Identitas dari ketiga Ganoderma asal kelapa sawit jika dibandingkan dengan G. boninense LKM berkisar antara 96.5 - 98.2 %. Secara keseluruhan identitas dari ketiga Ganoderma asal kelapa sawit berkisar antara 84.2-90.2 % jika dibandingkan dengan seluruh Ganoderma yang diuji. | Studi Kadar B-Karoten Pada Minyak Kelapa Sawit | | Yusran Pangaribuan, Nazly Aswani | Persaingan CPO dengan minyak nabati lainnya semakin meningkat. Sehingga diperlukan alternatif untuk meningkatkan kualitas dari CPO, yaitu dengan eksplorasi komponen minor minyak kelapa sawit yang bernilai tinggi, salah satunya adalah beta-karoten. Pasca standardisasi yang menetapkan kadar b-karoten (KBK) CPO impor diatas 500 mg, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melakukan eksplorasi bahan-bahan tanaman yang memenuhi kriteria tersebut, untuk kemudian dikembangkan melalui program-program pemuliaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar b-karoten dari keempat plasma nutfah Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial. Plasma nutfah kelapa sawit yang diuji terdiri dari Dura Deli, Dura Dumpy, Tenera Zaire dan Tenera Marihat. Analisis kadar b-karoten dilakukan menggunakan spektrofotometer λ 446 nm dengan metode PORIM. Analisis Sidik Ragam menunjukkan bahwa plasma nutfah kelapa sawit berpengaruh nyata terhadap KBK. Urutan plasma nutfah dari plasma nutfah dengan KBK terendah sampai tertinggi adalah Dura Dumpy (1152.392 ppm), Tenera Zaire ( 616.352 ppm), Tenera Marihat (758.438 ppm) dan Dura Deli (371.324 ppm). Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, plasma nutfah Dura Dumpy, Tenera Marihat dan Tenera Zaire berpotensi untuk digunakan dalam program-program pemuliaan dalam menghasilkan hibrida-hibrida dengan KBK yang tinggi untuk memenuhi standar. | Pedoman Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) Tentang Prinsip dan Kriteria Sustainable Palm Oil Pada Industri Kelapa Sawit | | Dja'far, Ratnawti N. dan M. Akmal A. | Minyak sawit adalah salah satu komoditi yang terbesar di dunia. Minyak sawit merupakan bahan baku penting, baik untuk bahan makanan maupun industri non pangan, yang memberikan sumbangan untuk perkembangan ekonomi bagi negara-negara produsen dan untuk bahan pangan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya permintaan minyak sawit dengan pertumbuhan sebesar 8,78 % per tahun . Pada tahun 2001 permintaan minyak sawit dunia mencapai 23,94 juta ton sedangkan pada tahun 2005 permintaan minyak sawit telah meningkat menjadi 33,03 juta ton atau 24 % dari total permintaan minyak hayati dunia. Peningkatan kebutuhan ini terjadi karena naiknya pertumbuhan ekonomi di negara-negara Asia seperti Cina dan India sebagai konsumen terbesar serta naiknya kebutuhan biodiesel dan biofuel di Eropa. Hal ini membuat perdagangan minyak sawit dunia memiliki prospek yang cerah, namun bukan berarti tidak mempunyai hambatan. Berkembangnya industri kelapa sawit dituding sebagai salah satu penyebab rusaknya lingkungan dan hutan-hutan tropis serta hilangnya keanekaragaman hayati yang ada. Untuk mengatasi masalah tersebut, industri minyak sawit pengembangannya harus dilakukan secara lestari. Oleh karenanya harus disosialisasikan definisi mengenai pengertian lestari dalam produksi minyak sawit, kemudian diintroduksikan dan diadopsi standar tata kelola yang sesuai dengan definisi tersebut. Hal inilah yang melahirkan suatu konsep minyak sawit lestari oleh suatu badan yang disebut dengan Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). Sebagai produsen minyak sawit kedua terbesar di dunia, Indonesia harus siap menerapkan konsep minyak sawit lestari tersebut. Hal merupakan tantangan terbesar bagi industri minyak sawit Indonesia agar mampu bersaing dalam perdagangan minyak sawit dunia. | | | | |