Pilihan Bahasa : 

Warta Vol 13, No 1 Feb 2005

2005Vol 13, No 1 Feb 2005Vol 13, No 2 Juni 2005Vol 13, No 3 Oktober 2005 
2004Vol 12, No 1 Feb 2004Vol 12, No 2-3 Okt 2004 
2003Vol 11, No 1 Feb 2003Vol 11, No 2-3 Okt 2003 
2002Vol 10, No 1 Feb 2002Vol 10, No 2-3 Okt 2002 
2001Vol 9, No 1 Feb 2001Vol 9, No 2 Juni 2001Vol 9, No 3 Okt 2001
Vol. 13 No. 1

β

* Kaitan daya dukung wilayah dan daya tarik pengembangan perkebunan Kelapa Sawit di areal Bukaan Baru

* Penggunaan bibit kelapa sawit lewat umur

* Jembatan Bantho sebagai pengganti jembatan kayu

* Pemanfaatan minyak sawit dan turunannya sebagai bahan pembuatan Kosmetik

Kaitan daya dukung wilayah dan daya tarik pengembangan perkebunan Kelapa Sawit di areal Bukaan Baru
Luqman Erningpraja, A. Kurniawan dan H. Santoso

   Perkembangan areal perkebunan kelapa sawit tumbuh dengan cepat sejak 1970, terutama pada tahun 80-an dimana pemerintah giat mengembangkan tanaman perkebunan. Selain itu pengembangan tanaman kelapa sawit dilatar belakangi oleh pencarian sumber minyak makan pengganti minyak kelapa yang diprediksikan tidakakan mencukupi kebutuhan dalam negeri.Titik kritis perkembangan areal kelapa sawit Indonesia terjadi dalam periode 80-an. Dalam kurun waktu 1970-1979, luas areal berkembang dengan laju sekitar 6,9%/tahun, sedangkan pada 1980-1989 laju tersebut naik menjadi 12, 7%/tahun dan sedikit turun menjadi 10,1 %/tahun pada 1990-1999 dan terus menurun menjadi 7,18%/tahun pada 2000-2004. Laju pertumbuhan perkebunan kelapa sawit Indonesia di masa mendatang diproyeksikan akan terus menurun. Dalam 2005-2010 laju pertumbuhan diproyeksikan tidak lebih dari 5%/tahun, turun menjadi ±3%/tahun dalam 2011-201 S dan anti klimaks menjadi ±1, 3%/tahun dalam 2016-2019.Terdapat indikasi bahwa lahan-lahan potensial untuk talon areal bukaan baru memiliki tingkat koreksi yang lebih tinggi baik dari aspek teknis maupun daya dukung wilayah yang berkorelasi negatif dengan daya tarik pengembangan perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan hasil kajian sementara menunjukkan bahwa: (a) lahan-lahan potensial sebagai calon areal bukaan baru didominasi oleh KKL potensial S3 yaitu sekitar 86% dari total luas areal dan 14% sisanya memiliki KKL potensial S2, (b) secara teknis pada lahan-lahan tersebut diperlukan beberapa teknologi tambahan antara lain berupa bangunan pengawetan tanah dan air seperti teras kontur, tapak kuda, rorak dan tapak timbun dan bangunan tata air pada lahan gambut. Tambahan paket teknologi berarti tambahan biaya investasi, (c) berdasarkan lokasi, maka sentra-sentra baru perkebunan kelapa sawit mengarah pada Indonesia Bagian Tengah dan Indonesia Bagian Timur .

 Penggunaan bibit kelapa sawit lewat umur
Nuzul H. Darlan, E.S Sutarta, dan P. Purba

   Lewat Umur, Bibit yang jagur sangat menentukan pertumbuhan dan produktivitas tanaman di lapangan. Areal yang tanamannya berasal dari bibit unggul yang j agur dan homogen umumnya mempunyai produktivitas yang tinggi jika dikelola dengan baik. Hal ini berbeda dengan areal yang tanamannya berasal dari bibit yang heterogen pertumbuhannya, biasanya tidak akan berproduksi secara optimal. Bibit yang biasa ditanam di lapangan disarankan yang berumur 10 12 bulan, yang umumnyatelah mempunyai sekitar 16 pelepah yang telah membuka. Seringkali pekebun dihadapkan pada  kondisi yang memaksa mereka menggunakan bibit lewat umur atau bibit " tua dengan umur > 12 bulan. Keterlambatan penyiapan lahan wring menjadipenyebab penggunaan bibit yang sudah cukup tua. Sementara pada beberapa kondisi, pekebun sengaja menggunakan bibit tua dengan tujuan tertentu seperti untuk areal pinggir kebun yang sering  terserang hama. Biasanya bibit lewat umurrelatif lebih tahan terhadap serangan tikus, landak, maupun hama lainnya.

   Karakteristik Bibit Tua, Bibit yang dikategorikan sebagai bibit tua adalah bibit yang berumur lebih dari  12 bulan. Namun secara lebih spesifik  yang dimaksudkan dengan bibit tua adalah bibit yang mempunyai sifat yang kurang menguntungkan dalam penggunaannya terutama pada tahap awal transplanting. Kondisi ini biasanya dihadapi pada bibit yang berumur 14 - 24 bulan, sedangkan di atas umur 24 bulan tidak disarankan untuk ditanam ke lapangan.Karakteristik bibit tua yang dianggap kurang menguntungkan tersebut adalah:

  • Sekumpulan akar yang menggulung rapat di polibeg, bahkan ada yang sudah masuk ke tanah sehingga saat transplanting akar lambat berkembang
  • Bonggol batang yang sudah besar sehingga sulit memadatkan tanah saat penanaman di lapangan
  • Bibit sudah tinggi sehingga pengangkutan ke lapangan sulit dilakukan 
  •  Peka terhadap cekaman kekeringan
  • Seleksi bibit yang rusak dan diserang penyakit sulit dilakukan.
Sehubungan dengan sifat-sifat bibit tua yang kurang menguntungkan ini maka dalam penggunaan dan penanaman­nya di lapangan perlu dilakukan berbagai perlakuan khusus agar dicapai kondisi yang lebih baik.
 Jembatan Bantho sebagai pengganti jembatan kayu
E.S. Sutarta
   Kerusakan jalan dan jembatan merupakan momok bagi pekebun kelapa sawit, utamanya selama semester 2. Bagaimana tidak, sementara produksi tanaman kelapa sawit umumnya mencapai panen puncak pada semester 2, kerusakan jalan juga menjadi masalah selama musim penghujan yang umumnya juga terjadi pada semester 2 setiap tahunnya. Dalam hal ini adanya jembatan maupun gorong-gorong yang rusak akan menambah kesulitan angkutan produksi. Akibatnya pekebun maupun asisten perkebunan harus berjuang untuk menggali produksi sekaligus selalu menjaga agar produksi yang telah dipanen di lapangan dapat diangkat ke pabrik pengolahan kelapa sawit.  
Pemanfaatan minyak sawit dan turunannya sebagai bahan pembuatan Kosmetik
Eka Nuryanto dan T. Herawan

   Pada saat ini, pasar industri kosmetik di Indonesia berkembang dengan pesat. Berbagai jenis produk kosmetik produksi dalam maupun luar negeri terdapat dipasar Indonesia. Komponen utama bahan baku kosmetik adalah minyak, alkil ester, surfaktan dan emulsifier Alkil ester digunakan pada produk kosmetik yang berbentuk krim dan lotion serta berfungsi memberikan kelenturan dan kelembutan pada kulit. Penggunaan alkil ester pada formula kosmetik umumnya berkisar antara 10 - 30%. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) telah berhasil mensintesis alkil ester, terutama butil ester dan isopropil ester, dari asam stearat sawit 1850 dengan menggunakan lipase sebagai biokatalisator Seiring dengan dapat disintesisnya alkil ester, maka PPKS saat ini telah dapat memformulasikan alkil ester menjadi krim pembersih dan hand body lotion. Krim pemberih produksi PPKS mempunyai karakteristik kadar air, asam lemak bebas, dan total fatty matter  berturut-turut 80,00 %, 2,57 %, dan 17,13 %. Sedangkan hand body lotion produksi PPKS mempunyai karakteristik kadar air 90,23 %, asam lemak bebas 1, 99 %, dan total fatty matter 7,77 %. Karakteristik kedua jenis produk kosmetik ini hampir sama dengan produk  sejenis yang beredar di pasar.

 
 
 
 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12173
  • Unique Visitor: 3100
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.104
  • Since: 2010-08-18