| Luqman Erningpraja, A. Kurniawan dan H. Santoso |
Perkembangan areal perkebunan kelapa sawit tumbuh dengan cepat sejak 1970, terutama pada tahun 80-an dimana pemerintah giat mengembangkan tanaman perkebunan. Selain itu pengembangan tanaman kelapa sawit dilatar belakangi oleh pencarian sumber minyak makan pengganti minyak kelapa yang diprediksikan tidakakan mencukupi kebutuhan dalam negeri.Titik kritis perkembangan areal kelapa sawit Indonesia terjadi dalam periode 80-an. Dalam kurun waktu 1970-1979, luas areal berkembang dengan laju sekitar 6,9%/tahun, sedangkan pada 1980-1989 laju tersebut naik menjadi 12, 7%/tahun dan sedikit turun menjadi 10,1 %/tahun pada 1990-1999 dan terus menurun menjadi 7,18%/tahun pada 2000-2004. Laju pertumbuhan perkebunan kelapa sawit Indonesia di masa mendatang diproyeksikan akan terus menurun. Dalam 2005-2010 laju pertumbuhan diproyeksikan tidak lebih dari 5%/tahun, turun menjadi ±3%/tahun dalam 2011-201 S dan anti klimaks menjadi ±1, 3%/tahun dalam 2016-2019.Terdapat indikasi bahwa lahan-lahan potensial untuk talon areal bukaan baru memiliki tingkat koreksi yang lebih tinggi baik dari aspek teknis maupun daya dukung wilayah yang berkorelasi negatif dengan daya tarik pengembangan perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan hasil kajian sementara menunjukkan bahwa: (a) lahan-lahan potensial sebagai calon areal bukaan baru didominasi oleh KKL potensial S3 yaitu sekitar 86% dari total luas areal dan 14% sisanya memiliki KKL potensial S2, (b) secara teknis pada lahan-lahan tersebut diperlukan beberapa teknologi tambahan antara lain berupa bangunan pengawetan tanah dan air seperti teras kontur, tapak kuda, rorak dan tapak timbun dan bangunan tata air pada lahan gambut. Tambahan paket teknologi berarti tambahan biaya investasi, (c) berdasarkan lokasi, maka sentra-sentra baru perkebunan kelapa sawit mengarah pada Indonesia Bagian Tengah dan Indonesia Bagian Timur . | Penggunaan bibit kelapa sawit lewat umur | | Nuzul H. Darlan, E.S Sutarta, dan P. Purba |
Lewat Umur, Bibit yang jagur sangat menentukan pertumbuhan dan produktivitas tanaman di lapangan. Areal yang tanamannya berasal dari bibit unggul yang j agur dan homogen umumnya mempunyai produktivitas yang tinggi jika dikelola dengan baik. Hal ini berbeda dengan areal yang tanamannya berasal dari bibit yang heterogen pertumbuhannya, biasanya tidak akan berproduksi secara optimal. Bibit yang biasa ditanam di lapangan disarankan yang berumur 10 12 bulan, yang umumnyatelah mempunyai sekitar 16 pelepah yang telah membuka. Seringkali pekebun dihadapkan pada kondisi yang memaksa mereka menggunakan bibit lewat umur atau bibit " tua dengan umur > 12 bulan. Keterlambatan penyiapan lahan wring menjadipenyebab penggunaan bibit yang sudah cukup tua. Sementara pada beberapa kondisi, pekebun sengaja menggunakan bibit tua dengan tujuan tertentu seperti untuk areal pinggir kebun yang sering terserang hama. Biasanya bibit lewat umurrelatif lebih tahan terhadap serangan tikus, landak, maupun hama lainnya. Karakteristik Bibit Tua, Bibit yang dikategorikan sebagai bibit tua adalah bibit yang berumur lebih dari 12 bulan. Namun secara lebih spesifik yang dimaksudkan dengan bibit tua adalah bibit yang mempunyai sifat yang kurang menguntungkan dalam penggunaannya terutama pada tahap awal transplanting. Kondisi ini biasanya dihadapi pada bibit yang berumur 14 - 24 bulan, sedangkan di atas umur 24 bulan tidak disarankan untuk ditanam ke lapangan.Karakteristik bibit tua yang dianggap kurang menguntungkan tersebut adalah: - Sekumpulan akar yang menggulung rapat di polibeg, bahkan ada yang sudah masuk ke tanah sehingga saat transplanting akar lambat berkembang
- Bonggol batang yang sudah besar sehingga sulit memadatkan tanah saat penanaman di lapangan
- Bibit sudah tinggi sehingga pengangkutan ke lapangan sulit dilakukan
- Peka terhadap cekaman kekeringan
- Seleksi bibit yang rusak dan diserang penyakit sulit dilakukan.
Sehubungan dengan sifat-sifat bibit tua yang kurang menguntungkan ini maka dalam penggunaan dan penanamannya di lapangan perlu dilakukan berbagai perlakuan khusus agar dicapai kondisi yang lebih baik. | Jembatan Bantho sebagai pengganti jembatan kayu | Kerusakan jalan dan jembatan merupakan momok bagi pekebun kelapa sawit, utamanya selama semester 2. Bagaimana tidak, sementara produksi tanaman kelapa sawit umumnya mencapai panen puncak pada semester 2, kerusakan jalan juga menjadi masalah selama musim penghujan yang umumnya juga terjadi pada semester 2 setiap tahunnya. Dalam hal ini adanya jembatan maupun gorong-gorong yang rusak akan menambah kesulitan angkutan produksi. Akibatnya pekebun maupun asisten perkebunan harus berjuang untuk menggali produksi sekaligus selalu menjaga agar produksi yang telah dipanen di lapangan dapat diangkat ke pabrik pengolahan kelapa sawit. | Pemanfaatan minyak sawit dan turunannya sebagai bahan pembuatan Kosmetik | | Eka Nuryanto dan T. Herawan |
Pada saat ini, pasar industri kosmetik di Indonesia berkembang dengan pesat. Berbagai jenis produk kosmetik produksi dalam maupun luar negeri terdapat dipasar Indonesia. Komponen utama bahan baku kosmetik adalah minyak, alkil ester, surfaktan dan emulsifier Alkil ester digunakan pada produk kosmetik yang berbentuk krim dan lotion serta berfungsi memberikan kelenturan dan kelembutan pada kulit. Penggunaan alkil ester pada formula kosmetik umumnya berkisar antara 10 - 30%. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) telah berhasil mensintesis alkil ester, terutama butil ester dan isopropil ester, dari asam stearat sawit 1850 dengan menggunakan lipase sebagai biokatalisator Seiring dengan dapat disintesisnya alkil ester, maka PPKS saat ini telah dapat memformulasikan alkil ester menjadi krim pembersih dan hand body lotion. Krim pemberih produksi PPKS mempunyai karakteristik kadar air, asam lemak bebas, dan total fatty matter berturut-turut 80,00 %, 2,57 %, dan 17,13 %. Sedangkan hand body lotion produksi PPKS mempunyai karakteristik kadar air 90,23 %, asam lemak bebas 1, 99 %, dan total fatty matter 7,77 %. Karakteristik kedua jenis produk kosmetik ini hampir sama dengan produk sejenis yang beredar di pasar. |
|
|
|