| * Pengurangan Populasi Larva ORYCTES RHINOCEROS Pada Sistem Lubang Tanam Besar * Pengelolaan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Dalam Menghadapi Berbagai Isu Dan Aturan Lingkungan * Viabilitas Bioaktivator Jamur TRICHODERMA KONINGII Pada Media Tandan Kosong Kelapa Sawit * Desain Rock Filters Sebagai Palishing Unit Kolam Stabilisasi Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (Penelitian Tahap I) * Perencanaan Wilayah Berbasis Kelapa Sawit, Visi, Misi, dan Tantangan Menuju Pembangunan Berkelanjutan | Pengurangan Populasi Larva ORYCTES RHINOCEROS Pada Sistem Lubang Tanam Besar | | Agus Susanto, A.P. Dongoran, Fahridayanti, A.F. Lubis, A. Prasetyo | Oryctes rhinoceros merupakan hama utama yang menyerang tanaman kelapa sawit di Indonesia, khususnya di areal replanting kelapa sawit. Masalah kumbang tanduk saat ini semakin bertambah dengan adanya aplikasi tandan kosong di gawangan maupun pada sistem lubang tanam besar. Aplikasi jamur Metarhizium anisopliae pada lubang tanam besar ini mempunyai peluang yang besar karena lingkungan yang teduh dibandingkan pada areal replanting dan penetrasi ke dalam tandan kosong kelapa sawit relatif mudah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan dosis 20 gram/m2 dapat mengendalikan larva O. rhinoceros pada mulsa TKS di gawangan mati. Jamur mudah diperbanyak dan diformulasikan dalam bentuk larva O. rhinoceros. Dari hasil penelitian aplikasi jamur M. anisopliae di sistem lubang tanam besar persentase kematian larva O. rhinoceros yang diperoleh dapat mencapai 100% pada 7 minggu setelah aplikasi di tandan kosong kelapa sawit pada sistem lubang tanam besar. Cara mengaplikasikan jamur M. anisopliae di TKS masih membutuhkan hand-picking dan mengaduk-aduk media pada awalnya untuk meningkatkan keefektifannya. Keefektifan aplikasi jamur M. anisopliae ini juga didukung adanya peran kumbang O. rhinoceros dalam penyebaran jamur ini. Dengan demikian pemanfaatan TKS pada sistem lubang tanam besar masih dapat dilanjutkan, tanpa adanya resiko peningkatan populasi dari larva O. rhinoceros. | Pengelolaan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Dalam Menghadapi Berbagai Isu Dan Aturan Lingkungan | | Luqman Erningpraja dan Roby Fauzan | Limbah industri kelapa sawit baik limbah cair, padat, maupun gas berpotensi merusak lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Untuk melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakat akibat dampak polusi yang ditimbulkan oleh kegiatan industri kelapa sawit, sistem pengendalian dampak lingkungan yang menyeluruh dibutuhkan dalam setiap rangkaian kegiatan, termasuk pengelolaan limbah. Langkah tersebut diikuti dengan minimalisasi limbah pada sumbernya. Permasalahan-permasalahan dalam rekayasa dan manajemen limbah cair merupakan isu lingkungan penting yang dihadapi industri kelapa sawit. Para praktisi dan peneliti sekarang ini harus memperhatikan sejumlah kriteria dan prinsip yang diajukan oleh Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Konsekuensinya, perbaikan teknologi dalam pengelolaan limbah cair kelapa sawit harus memperhatikan kriteria keekonomian dan finansial, sejalan dengan aspek perlindungan lingkungan. Penentuan baku mutu sebaiknya berdasarkan ternologi paling ekonomis yang dapat memenuhi baku mutu yang ada (konsep Best Available Technology Economically Achievable). Teknologi konvensional jangan dipandang sebagai teknologi kuno dan ketinggalan zaman, akan tetapi harus diperbaiki terus menerus untuk meningkatkan keunggulannya terhadap ‘teknologi canggih’ dan mengurangi kelemahan-kelemahannya. Kesederhanaan, keekonomisan dan sifat pengolahan alaminya harus diapresiasi secara proporsional. | Viabilitas Bioaktivator Jamur TRICHODERMA KONINGII Pada Media Tandan Kosong Kelapa Sawit | | Agus Susanto, A.E. Praseto, FAhridayanti, A.F.Lubis, A.P. Dongoran | Jamur Trichoderma spp. merupakan salah satu agens antagonis yang banyak digunakan sebagai bioaktivator maupun biokontrol penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit yang disebabkan oleh G. boninense. Jamur ini berkembang baik pada bahan organik. Salah satunya adalah tandan kosong kelapa sawit yang sering diaplikasikan petani pada pertanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui viabilitas T. koningii isolat MR-14 dalam media kompos tandan kosong kelapa sawit dan kemampuannya dalam menghambat patogen G. boninense secara in vitro dan sebagai pupuk organik di pembibitan pre nursery. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah spora T. koningii dalam media kompos pada konsentrasi 5% masih diatas 106 spora/gram kompos dengan umur inkubasi 4 bulan sehingga menjadi konsentrasi terbaik sebagai biofungisida. T. koningii juga mampu menghambat pertumbuhan G. boninense sampai 90% secara in vitro. Sedangkan aplikasi kompos dicampur dengan isolat T. koningii pada perbandingan kompos dan tanah 50%:50% memberikan hasil terbaik pada pembibitan pre nursery dengan rata-rata tinggi tanaman 16,8 cm dan jumlah pelepah 3,17 daun. | Desain Rock Filters Sebagai Palishing Unit Kolam Stabilisasi Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (Penelitian Tahap I) | | Luqman Erningpraja, Roby Fauzan, Vita Dhian Lelyana, Henny Lydyasari | Penelitian ini bertujuan untuk mendesain saringan batu (rock filters) untuk polishing unit efluen kolam stabilisasi limbah cair pabrik kelapa sawit. Penelitian menggunakan 4 bak saringan batu berukuran panjang 65 cm, lebar 45 cm, dan dalam 45 cm dan volume efektif cairan 110 L. Sistem pengaliran upflow dengan pompa peristaltik dan umpan diambil langsung dari kolam fakultatif terakhir (kolam alga) PKS Bah Jambi dengan pompa ke bak penampung secara kontinu yang kemudian diteruskan oleh pompa peristaltik ke bak saringan batu. Material menggunakan batu mangga ukuran 10 – 15 cm dan ukuran 30 – 50 mm. Pada penelitian awal ini digunakan variasi Hydraulic Loading Rates (HLR) 0,50/hari ; 0,75/hari ; 1,00/hari ; 1,25/hari dan 1,50/hari tanpa perendaman awal. Dari hasil penelitian, penyisihan maksimal didapat pada HLR 0,50/hari. Pada HLR 0,50/hari untuk batu mangga didapat rata – rata penyisihan COD 16,7 %, BOD 11,83 % dan TSS 12,4%, sedangkan untuk batu pecah ukuran 30 – 50 mm didapat rata – rata penyisihan COD 30,19%, BOD 19,84%, dan TSS 18,71%. Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa pada HLR 1,25/hari dan 1,50/hari diperoleh hasil penyisihan negatif. Penelitian perlu dilanjutkan untuk variasi batu yang lebih kecil sehingga diameter rongga antar batu lebih kecil pula. Selain itu, perlu juga dilakukan penelitian pembanding dengan menggunakan bak yang telah direndam selama 1 – 2 bulan. | Perencanaan Wilayah Berbasis Kelapa Sawit, Visi, Misi, dan Tantangan Menuju Pembangunan Berkelanjutan | | Ridwan Sutriandi, Luqman Erningpraja, Roby Fauzan, Emenda Semiring | Pengembangan komoditas tidak terlepas dari konteks perencanaan wilayah dan lingkungan. Kelapa sawit, sebagai salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia, menghadapi sejumlah tantangan yang harus dihadapi seiring dengan otonomi daerah, isu – isu lingkungan dan konversi lahan, maupun pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Untuk itu, perencanaan pengembangan wilayah harus dilakukan secara terintegrasi, dengan menganalisis potensi dan masalah yang ada serta mengimplementasikannya dalam konteks rencana tata ruang dan wilayah setempat. Permasalahan utama yang harus dibenahi untuk pengembangan kelapa sawit berkelanjutan adalah faktor penyediaan bibit berkualitas, budaya kerja, dan kultur teknis. Untuk mempersiapkan industri dan pelaku industri sawit dalam memenuhi ketentuan-ketentuan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), maka Indonesia harus bersiap-siap membenahi terlebih dahulu ketiga faktor utama tersebut di atas selain faktor lingkungan dan teknologi pengolahan. Sosialisasi kultur teknis harus dilakukan secara intensif kepada para petani. Aspek hulu yang perlu diperhatikan adalah pengembangan bahan tanaman berkualitas sesuai jenis pengguna dan jenis tanah dan iklim yang ada. Pengembangan industri hilir kelapa sawit dalam negeri akan memperluas pasar produk CPO dan merupakan kunci penstabilan harga komoditas kelapa sawit. Perumusan visi-misi serta strategi pengembangan perkebunan serta industri kelapa sawit yang berkelanjutan merupakan acuan awal pengkajian persiapan kebijakan penerapan RSPO untuk industri kelapa sawit Indonesia serta konsep desain kawasan agropolitan. Penerapan prinsip – prinsip RSPO harus dievaluasi secara hati – hati oleh pihak – pihak yang terkait di Indonesia dan kelemahan kultur teknis petani harus menjadi perhatian pemerintah. | | | | | |