|
Penelitian ini bertujuan (i) menggunakan pendekatan proses hirarki analitik (Analytic Hierarchy Process, AHP) untuk pembobotan elemen-elemen model penilaian kesesuaian iklim (Model NSI) pada sistem perkebunan kelapa sawit, dan (ii) mengembangkan Model NSI untuk perkebunan kelapa sawit. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap, meliputi (i) eksplorasi keragaan elemen-elemen model, (ii) pengembangan Model NSI, serta (iii) validasi model. Pengembangan model menggunakan pendekatan AHP, analisis indeks, verifikasi model dan proses matching. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (i) Elemen-elemen model yang digunakan untuk pengembangan Model NSI meliputi parameter iklim dan produktivitas kelapa sawit. Parameter iklim tersebut terdiri dari curah hujan, bulan kering, penyinaran matahari dan suhu udara tahunan. (ii) Pembobotan elemen-elemen Model NSI telah dilakukan dengan pendekatan menyeluruh menggunakan AHP, meliputi struktur hirarki dan perhitungan bobot relatif. (iii) Model NSI dirancang berdasarkan indeks kesesuaian iklim (ISI) dan didapatkan kisaran 0% - 100%. ISI (0-22%) merupakan kisaran bagi kelompok yang tidak sesuai iklim untuk perkebunan kelapa sawit, sedangkan ISI (23%-100%) merupakan kisaran bagi tiga kelompok kelas sesuai iklim. (iv) Model NSI mampu menampilkan gradasi dan ketepatan penilaian kesesuaian iklim secara lebih baik dari sistem sebelumnya.
| Aplikasi sistem informasi geografis untuk menentukan keseimbangan antara kebutuhan PKS-mini dengan areal perkebunan kelapa sawit di daerah terpencil provinsi Sumatera Utara |
| M. Lukman Fadli dan Heri Santoso |
Luas areal perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara pada 2002 menurut data Dinas Perkebunan Sumatera Utara adalah perkebunan rakyat sebesar 23,95%, perkebunan besar Negara 35,19%, perkebunan besar swasta nasional sebesar 31,20% dan perkebunan besar swasta asing sebesar 9,67%. Sampai pada tahun 2002 jumlah PKS yang dimiliki oleh swasta dan negara sebanyak 107 PKS, yang dimilik perkebunan swasta nasional (PBSN) sebanyak 59 PKS dan perkebunan swasta asing (PBSA) sebanyak 13 PKS serta PKS yang dimiliki perkebunan negara (PTPN) sebanyak 35 PKS. Kendala yang dihadapi oleh perkebunan kelapa sawit rakyat yang lokasinya jauh dari PKS adalah biaya angkut yang relatif tinggi. Pembangunan PKS-mini di daerah remote merupakan solusi yang jumlah dan kapasitasnya disesuaikan dengan penyebaran perkebunan kelapa sawit rakyat masing-masing lokasi. Aplikasi sistem informasi geografis (SIG) dapat digunakan untuk mengetahui keseimbangan kebutuhan PKS-mini dengan penyebaran luas perkebunan kelapa sawit. Dengan interpretasi dan kompilasi beberapa data pendukung berupa data spasial dan atribut serta beberapa asumsi yag digunakan di provinsi Sumatera Urara masih menungkinkan dibangun 7 PKS lagi dengan perincian kapasitas 1 ton TBS/jam sebanyak 5 pabrik, kapasitas 5 ton TBS/jam 2 pabrik, dan 1 pabrik kapasitas 30 ton TBS/jam.
| Aplikasi pupuk boron pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (umur 2-3 tahun) yang mengalami defisiensi B |
| Sugiyono, Heri Santoso, dan S. Rahutomo |
Percobaan pupuk boron pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (umur 2-3 tahun) yang mengalami gejala defisiensi B dilaksanakan di kebun Rambutan PT. Perkebunan Nusantara III Sumatera Utara. Percobaan mulai dilaksanakan pada Januari 2004 dan selesai pada Desember 2004. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Kelompok dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah : 1) K = perlakuan dengan pemupukan standar tanpa pupuk B, 2) P1 = perlakuan dengan pemupukan standar + 25,0 g jenis A granul (32 %) /ph/tahun, 3) P2 = perlakuan dengan pemupukan standar + 50,0 g jenis A granul (32 %) /ph/tahun, 4) P3 = perlakuan dengan pemupukan standar + 75,0 g jenis A granul (32 %) /ph/tahun, 5) P4 = perlakuan dengan pemupukan standar + 25,0 g HGF-B /ph/tahun, 6) P5 = perlakuan dengan pemupukan standar + 50,0 g HGF-B /ph/tahun, dan 7) P6 = perlakuan dengan pemupukan standar + 75,0 g HGF-B /ph/tahun. Sedangkan untuk pupuk N, P, K dan Mg mengikuti dosis standar kebun. Khusus pupuk B diaplikasikan sekali dalam satu tahun yaitu pada pemupukan pertama. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada semua dosis perlakuan pupuk B baik jenis A granul (32 %) maupun HGF-B mampu menurunkan jumlah pohon yang mengalami defisiensi B setelah 7 bulan aplikasi B (Juli 2004) untuk P1 sebesar 76%, P2 95%, P3 88%, P4 100%, P5 89% dan P6 sebesar 90%. Dan pada bulan November 2004 perlakuan P1 s/d P6, tidak ada tanaman yang mengalami defisiensi B.
| Studi ketersediaan Mg pada beberapa jenis pupuk Mg menggunakan uji bibit neubauer |
| S. Rahutomo, E.S. Sutarta, dan N.H. Darlan |
Penelitian untuk mempelajari ketersediaan magnesium (Mg) pada beberapa pupuk Mg yang sering digunakan di perkebunan kelapa sawit menggunakan uji bibit Neubauer dilaksanakan di rumah kaca kebun percobaan Aek Pancur, Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan pada September 2003 - Juli 2004. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan jagung (Zea mays) sebagai tanaman indikator. Beberapa pupuk Mg yang diuji adalah: a) kieserit, b) Mg “A” (36% MgO), c) dolomit, dan d) super dolomit, pada 3 tingkatan dosis MgO, yaitu 0,25 , 0,50, dan 0,75 mg MgO pot-1. Penanaman dan pemanenan biomasa bagian atas dilaksanakan lima kali. Bobot kering tanaman ditimbang pada setiap pemanenan, analisis daun untuk mengukur serapan Mg dilakukan pada panen I, II, dan III, sedangkan pengukuran kadar Cadd dan Mgdd dalam tanah dilakukan pada akhir percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada subsoil tanah Typic Hapludult yang bereaksi masam, aplikasi dolomit dan super dolomit sebagai sumber Mg memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan kiserit dan Mg “A” (36% MgO) terutama didasarkan pada peningkatan bobot kering tanaman indikator yang lebih tinggi, serapan Mg dalam daun yang lebih besar, dan perimbangan Ca/Mg dalam tanah yang lebih baik. Secara umum, percobaan ini menunjukkan bahwa sifat kimia tanah terutama kemasaman tanah dan perimbangan dengan kation lain memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan pupuk Mg menyuplai kebutuhan Mg untuk tanaman.
| Pembangunan ekonomi mwelalui perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara |
| Teguh Wahyono dan Dja'far M |
Paper yang berjudul Pembangunan Ekonomi Regional Melalui Perkebunan Kelapa Sawit bertujuan: a) mengetahui peranan kelapa sawit pada penyerapan tenaga kerja dan penerimaan sektor fiskal; b) mengetahui peranan kelapa sawit pada pengembangan wilayah; and c) mengetahui sumbangan hasil perkebunan kelapa sawit terhadap produk domestik regional bruto (PDRB).
Sampai akhir 2003 areal kelapa sawit 760.387 ha, keperluan tenaga kerja untuk kegiatan kerja di kebun adalah 35 orang setiap 100 ha, maka jumlah yang dapat diserap adalah 304.155 orang. Jumlah pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) mencapai 85 unit dengan kapasitas olah total 3.400 ton tandan buah segar (TBS) per jam. Dalam setiap PKS yang berkapasitas olah 30 ton TBS per jam diperlukan tenaga kerja sebanyak 136 orang, maka untuk seluruh PKS diperlukan 15.400 orang. Tenaga kerja dalam jumlah banyak lagi akan dapat diserap oleh industri hilir yang berbahan baku kelapa sawit.
Di wilayah Sumatera Utara, pembangunan perkebunan juga meliputi pembangunan prasarana dan sarana fisik, seperti: jalan, jembatan, gedung sekolah, tempat ibadah dan sarana lainnya. Untuk selanjutnya diikuti dengan pengembangan kegiatan ekonomi dan sosial, misalnya pusat perdagangan, lembaga keuangan, lembaga pendidikan, pusat kesehatan, olah raga, hiburan dan lain-lain
Nilai produksi kelapa sawit di Sumatera Utara pada tahun 2003 menurut harga berlaku adalah Rp10,15 triliun, dengan kontribusi terhadap perkebunan, pertanian dan PDRB seluruh sektor berturut-turut adalah 87%, 37% dan 11%. Kontribusi perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara adalah sebagai berikut: Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Rp. 3,8 milyar, Pajak Penghasilan (PPh) Rp. 1,57 triliun, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Rp. 890,4 milyar dan Pajak Ekspor (PE) Rp. 154,9 milyar.
|
|
|
|
|