| Fahrida Yanti dan Agus Susanto |
Ganoderma termasuk salah satu kelompok jamur kayu kelas Basidiomycetes, Ordo Polyporales, famili Polyporaceae, divisi Eumycophyta. Pada umumnya famili Polyporaceae memiliki tubuh buah berbentuk seperti kipas dan keras, papan atau payung. Tubuh buah jamur ini dapat berumur sampai beberapa tahun. Tubuh buah Ganoderma boninense dapat ditemukan di bagian pangkal batang kelapa sawit, merupakan jamur tular tanah, berwarna putih, semakin tua badan buah akan bertambah besar ukurannya dan warnanya menjadi lebih gelap (1). Di kalangan perkebunan perkebunan Ganoderma boninense dianggap sebagai musuh penting bagi tanaman kelapa sawit maupun kelapa. Ganoderma menyebabkan penyakit busuk pangkal batang, baik pada tanaman belum menghasilkan maupun tanaman menghasilkan. Pada tanaman yang terserang, belum tentu ditemukan tubuh buah Ganoderma pada bagian pangkal batang, namun kita bisa mengidentifikasi serangan lewat daun tombak yang tidak terbuka sebanyak ± 3 daun. Selain itu tanaman yang terserang juga kelihatan lebih pucat dari tanaman lain yang ada di sekitarnya. Pada tanaman menghasilkan bila terserang jamur ini, maka pada serangan lebih lanjut, dapat mengakibatkan tanaman tumbang, hal ini disebabkan melapuknya jaringan kayu pada bagian pangkal batang kelapa sawit oleh Ganoderma (5). Dewasa ini Ganoderma tidak hanya dikenal sebagai penyebab busuk pangkal batang pada kelapa sawit, yang selalu merugikan manusia. Berdasarkan sejarah bangsa Cina maupun Jepang, di kalangan kaisar telah lama menggunakan Ganoderma sebagai obat panjang umur Ganoderma yang dahulu disebut Ling zhi dianggap ajaib, karena mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Para ilmuwan masa kini telah meneliti jamur tersebut dan diidentifikasi sebagai Ganoderma. Jamur ini termasuk jamur yang tahan kekeringan sehingga mudah untuk dibudidayakan (2). Menurut Susanto (4), Ganoderma Selain dikenal sebagai penyebab penyakit pohon pohonan, juga dikenal sebagai obat bagi kesehatan manusia. Ganoderma yang digunakan sebagai obat ini sebagian besar adalah Ganoderma lucidum. Jamur ini mengandung polisakarida, terpenoid, asam ganoderik, germanium, protein, adenosin, dan serat. Bahan-bahan tersebut secara keseluruhan bersifat anti tumor, meningkatkan oksigen dalam otak, menyeimbangkan fungsi bioelektrik, menurunkan kadar gula dalam darah, menurunkan kolestrol, menghilangkan racun, menghaluskan kulit, dan lain sebagainya. Obat Ganoderma selain dapat menyembuhkan penyakit seperti kencing manis, stroke, hipertensi, obat ini dapat pula digunakan sebagai tonik dan obat awet muda. Dalam budidaya Ganoderma ataupun penelitian diperlukan perbanyakan biakan inokulum jamur: Beberapa media telah dicoba untuk menumbuhkan inokulum G. boninense secara invitro antara lain Ho dan Nawawi, (3) menumbuhkan miselium jamur Ganoderma boninense dengan menggunakan 9 jenis medium yang berbeda antara lain: PDA (Potato dextrose agar), CMA (Corn meal agar), OMA (Oat meal agar), LBA (Lima bean agar), MA (Malt extract agar), PA (Prune agar), CA (Czapek agar), CDA (Carrot dextrose agar), RDA (Rice dextrose agar). Semua medium terkecuali CDA dan RDA berasal dari Difco dan dipersiapkan sesuai petunjuk yang diberikan. Bahan CDA terdiri dari 200 g wortel, 20 g dextrose, 20 g agar dalam 1 liter air distilasi. Sedang RDA terdiri dari 160 g tepung beras, 15 g dextrose, 20 gr agar dalam 1 liter air distilasi. Masing-masing biakan diinkubasi pada suhu kamar antara ± 27 - 31 °C dan diukur diameter koloni miselium jamur setiap harinya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa miselium jamur lebih cepat tumbuh pada medium LDA diikuti medium RDA, PDA, CMA, CDA, OMA, MA, PA, dan CA. Pada medium PDA diameter miseliumjamurG. boninensemencapai 16mmsetelah 6hari. Kendala yang dihadapi dalam memperbanyak jamur Ganoderma adalah ketidaktahuan masyarakat tentang teknik isolasi jamur Ganoderma yang benar, serta lambatnya perkembangan inokulum jamur Ganoderma tersebut pada media biakan hingga memberi peluang bagi inokulum jamur lain seperti Aspergillus sp., Trichoderma harzianum yang mungkin telah terbawa dari lapangan untuk tumbuh dan mengkontaminasi biakan Ganoderma. Perbanyakan Ganoderma boninense telah kami lakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Perbanyakan dilakukan dengan menggunakan media PDA (Potato Dextrose Agar). Kami memilih medium ini, karma Maya yang dibutuhkan tidakbegitu besar dan pembuatannya sangatlah mudah. Selain pemilihan medium yang mush dan praktis, perbanyakan jamur ini juga membutuhkan teknik isolasi dengan strategi langkah-langkah isolasi sebagai berikut: Cara pemilihan tubuh buah dari lapangan, cara sterilisasi tubuh buah, cara sterilisasi alat-alat isolasi, cara inokulasi tubuh buah yang benar; cara pemurnian biakan Ganoderma. | Penggunaan kacangan penutup tanah Mucuna bracteata pada pertanaman kelapa sawit: Pengalaman di kebun Tinjowan Sawit II, PT. Perkebunan Nusantara IV | | Sebayang. E. S Sutarta dan Iman Yani Harahap |
Pengalaman penanaman Mucuna bracteata di kebun Tinjowan Sawit II selama ± 4 tahun memperlihatkan bahwa, perbanyakan melalua stek batang sangat rentan terhadap kematian (tingkat kematian di atas 90 %). Kegagalannya terutama disebabkan oleh sulitnya mendapatkan bahan stek yang baik berasal dari ruas yang bulu akarnya sudah mulai muncul (akar putih) dan proses aklimatisasi yang kurang baik. Cara lain yang dikembangkan untuk perbanyakan Mucuna bracteata adalah dengan cara cangkok-rundukyang keberhasilannya lebih tinggi. Pada umur 18 hingga 24 bulan setelah tanam, pertumbuhan Mucuna bracteata telah menutup 95 % areal dengan ketebalan 40-90 cm. Sifat Mucuna bracteata yang A toleran terhadap naungan dan relatif tidak disukar S ternak menyebabkan kemampuannnya menekan lma menjadi tinggi, sehingga biaya pemeliharaan tanaman kelapa sawn menjadi lebih rendah. Di samping itu tingkat produktivitas awal tanaman kelapa sawn pada areal berpenutup tanah Mucuna bracteata relatif lebih tinggi dibanding pada areal berpenutup tanah , konvensional. | Teknik infus akar untuk pengendalian gulma epifit pada pohon kelapa sawit | | Kolem Ginting, E. S Sutarta, dan R. Y. Purba |
Gulma epifit merupakan gulma yang tumbuh menempel pada batang kelapa sawit, umumnya berupa pakis-pakisan, beringin, dan kayuan lainnya. Gulma pakisan yang tumbuh umumnya tidak sampai mengganggu tanaman ataupun menghambat kegiatan panen dan pemeliharaan sehingga tidak memerlukan kegiatan pengendalian khusus. Hal ini berbeda dengan gulma epifit berupa kayuan, yang wring dijumpai pada daerah pinggir kebun berbatasan dengan hutan atau perkampungan penduduk. Biji kayuan seperti beringin banyak yang disebarkan oleh burung sehingga jatuh di ketiak pelepah dan berkembang menjadi gulma bagi tanaman kelapa sawit. Gulma ini dapat berkembang dan bijinya dapat menyebar cepat ke pohon kelapa sawit di sekitarnya. Dengan kandungan bahan organik berupa pelepah dan rontokan bunga jantan yang cukup tinggi dengan kondisi yang cukup lembab merupakan media yang baik bagi berkembangnya gulma kayuan. Gulma kayuan yang Bering dijumpai tumbuh di batang tanaman kelapa sawit antara lain : beringin (Ficus spp), dan kayuan berduan lebar maupun sempit. Pada waktu masih kecil, gulma epifit tidak mengganggu kegiatan panen dan pemeliharaan tanaman, namun setelah besar dapat menyulitkan pemanen untuk memanen tandan kelapa sawit. Kegiatan penunasan untuk memotong pelepah kelapa sawit yang berlebihan juga akan terlambat. Selain itu sering akar gulma ini berkembang hingga mencapai tanah sehingga dapat menjadi pesaing bagi tanaman dalam memanfaatkan pupuk yang diberikan. Semakin menggangu pekerjaan panen dan memeangkas pelepah dan juga semakin banyak menghisap unsur hara, sehingga gulma epifit ini harus dikendalikan. PPKS telah menggunakan cara ini dengan efektif untuk mengendalikan ulat api dan ulat kantong pada tanaman kelapa sawit (1,2,3). Didasari hasil diskusi demgan timrekomendasi pemupukan dari PPKS dan hasil penelitian yang pernah dipublikasikan, maka penulis mencoba melakukan percobaan sederhana berupa aplikasi herbisida dengan cara infus akar untuk mengendalikan gulma epifit dengan tujuan utama mencari dosis dan kosentrasi yang optimal bagi beberapa jenis gulma kayuan pada pohon kelapa sawit.
| Dibalik harga TBS yang dapat kubayar! | | Luqman Erningpraja, A. Kurniawan dan Arsyad D. Koedadiri |
Permasalahan di pasar Tandan Buah Segar (TBS) ditemui perbedaan harga beli TBS antar Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di satu wilayah maupun antar wilayah dan bahkan terjadi tren perubahan harga beli oleh sebuah PKS antar periode waktu. Kemampuan harga beli TBS oleh PKS akan berkorelasi dengan perolehan keragaan usaha PKS. Keragaan usaha PKS itu sendiri merupakan hasil simultan antara potensi kelayakan usaha dengan tingkat efisiensi proses produksi aktual yang diperoleh sebuah PKS. Potensi kelayakan usaha PKS ditentukan oleh nilai "syarat cukup" dan "syarat perlu" pembangunan PKS yang dapat dicapai. Syarat cukup pembangunan PKS menyangkut kesesuaian antara pasokan TBS dengan kapasitas olah PKS dan kelayakan dari aspek teknis. Syarat perlu pembangunan PKS akan terkait dengan besaran biaya investasi fisik PKS, besaran biaya investasi pengolahan limbah PKS, sarana pendukung PKS yang tersedia dan jarak PKS ke pelabuhan terminal Crude Palm Oil (CPO) tujuan ekspor/pasar utama lokal. Sementara itu tingkat efisiensi proses produksi dicerminkan oleh beberapa indikator, antara lain: tingkat rendemen CPO+inti dan losses; jam kerja dan hari kerja olah PKS; kapasitas pengolahan limbah PKS; serta besaran biaya olah TBS (biaya tetap dan biaya variabel). Secara ringkas, kemampuan harga beli TBS berkorelasi positif dengan pencapaian keragaan usaha PKS yang merupakan hasil simultan dari pencapaian syarat cukup dan syarat perlu pembangunan PKS serta pencapaian efisiensi proses produksi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kemampuan PKS untuk memberikan harga beli TBS akan semakin tinggi bila: 1. PKS mampu memperoleh pertambahan nilai penerimaan yang lebih besar dari beban biaya pengeluarannya, atau 2. Semakin rendahnya biaya investasi PKS dan biaya olah TBS (red.- dengan pencapaian nilai penerimaan yang sama). | Pemanfaatan lauril amida dari asam laurat sebagai bahan surfaktan non ionik pada pembuatan sampo jernih | | Eka Nuryanto dan Diah Sri Arisanti |
Surfaktan yang disintesis dari turunan minyak bumi dan gas alam sukar terdegradasi oleh alam, di samping itu proses pembuatan surfaktan dari bahan baku ini menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Minyak nabati dapat pula dijadikan sebagai sumber bahan baku di dalam pembuatan surfaktan. Surfaktan yang dihasilkan merupakan surfaktan yang mudah terdegradasi. Potensi Indonesia menjadi produsen surfaktan yang ramah lingkungan sangat besar, mengingat lndonesia merupakan penghasil utama minyak sawit dunia. Lauril amida merupakan salah satu hasil sintesis dari minyak inti sawit yang ramah lingkungan, tergolong surfaktan non ionik yang dapat digunakan sebagai bahan aditif pada pembuatan sampo. Sampo adalah sabun cair untuk mencuci rambut dan kulit kepala, terbuat dari campuran tumbuhan atau zat kimia. Fungsi utama dari sampo ini adalah membersihkan rambut dan kulit kepala dari kotoran yang melekat sehingga faktor daya bersih merupakan hal yang penting dari suatu produk sampo. Dari ke lima sampo yang telah dibuat dapat dilihat bahwa sampo ke tiga (F-3) mempunyai kualitas yang lebih baik dengan karakteristik sebagai berikut, penampakan terlihat jernih, tinggi busa 27cm, kekentalan 12, 71 poise, ALB 1,17 %,; densiti 0,960 gr/cm3, dan kadar air 30,74 %. Karakteristik tersebut mendekati karakteristik sampo komersial, yaitu, penampakan terlihat jernih, tinggi busa 25 cm, kekentalan 12,36 poise, ALB 12,56 %, densiti 0, 957 gr/cm3, dan kadar air 28,07%. Berdasarkan perbandingan kualitas sampo komersial dapat dinyatakan bahwa sampo dengan bahan aditif lauril amida mempunyai kualitas yang relatif sama dengan sampo komersial. Hasil uji penerimaan konsumen secara terbatas terhadap sampo hasil formulasi F-3 relatif dapat diterima oleh konsumen. | Produktivitas kelapa sawit generasi pertama pada tanah ultisol di beberapa wilayah perkebunan kelapa sawit Indonesia | Produktivitas kelapa sawit generasi pertama pada tanah Ultisol di tiga wilayah perkebunan kelapa sawit di Indonesia yaitu Kalimantan, Riau dan Sumatera Utara, ternyata masih rendah dan berada di bawah standar potensi kelas lahan S-3. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa potensi produksi di wilayah Kalimantan lebih rendah dari wilayah Riau dan Sumatera Utara berturut turut sebesar 61,2%, 63,1% dan 77,1% terhadap standar potensi lahannya. Sedangkan produktivitas tertinggi diperoleh sebesar 72, 7% untuk wilayah Kalimantan, 75,2% untuk wilayah Riau dan 90,2% untuk wilayah Sumatera Utara. Rendahnya produtivitas pada tanah Ultisol dimungkinkan akibat rendahnya tingkat kesuburan baik fisik maupun kimia tanah, yang dicirikan oleh karakteristik: pH, bahan organik, KTK, KB, ketersediaan P dan retensi (daya simpan) air yang cukup rendah, serta tingginya kejenuhan Al, Fe dan tingkat erodibilitas tanah dan perlakuan kultur teknis yang belum mengikuti norma (standar) pemeliharaan tanaman. Beberapa upaya yang perludilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanah Ultisol tersebut dengan memperhatikan sifat (karakteristik) tanahnya yaitu pemberian pupuk anorganik yang cukup tinggi dan berimbang, konservasi tanah dan air yang tepat dan berkesinambungan mengingat tingkat erodibilitas tanah yang tergolong tinggi. Pemberian Tandan Kelapa Sawit (TKS) merupakan upaya penanggulangan yang tepat, selain mengurangi dampak limbahnya dapat memperbaiki kesuburan fisik maupun kimia tanah dan nyata meningkatkan produksi. | |
|
|
| Pertumbuhan Dan Serapan Hara Bibit Kelapa Sawit Pada Medium Tanam Sub Soil Tanah Typic Paleudult, Typic Tropopsamment Dan Typic Haplidult | | Penelitian penggunaan medium tanam sub soil pada pembibitan utama kelapa sawit telah dilakukan di lokasi pembibitan kebun Percobaan Aek Pancur. Medium tanam yang digunakan sebagai perlakuan adalah sub soil tanah Typic Paleudult, Typic Tropopsamment, dan Typic Hapludult, yang diambil pada kedalaman 50-100 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan serapan hara bibit umur 11 bulan di pembibitan utama dengan medium sub soil tanah Typic Hapludult secara umum lebih baik dibandingkan perlakuan penggunaan medium sub soil Typic Tropopsamment dan Typic Paleudult, sedangkan pada tanah Typic Paleudult menunjukkan pertumbuhan dan serapan hara bibit yang paling rendah. Kandungan Al tertukar yang cukup tinggi dalam tanah Typic Paleudult menekan pertumbuhan akar bibit dan menurunkan serapan hara bibit. Medium sub soil Typic Hapludult dalam percobaan dapat digunakan sebagai medium alternatif untuk pembibitan utama kelapa sawit dengan perlakuan pemupukan sesuai dosis dan waktu aplikasi standar pemupukan di pembibitan utama.
| Profil Dan Prospek Pengembangan Industri Kelapa Sawit | | Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Indonesia, dengan pangsa pasar yang terus meningkat serta perkembangan permintaan dari Australia, China, Korea, India, Nigeria dan dalam negeri. Dalam upaya pengembangan kelapa sawit para investor perlu menyadari bahwa a) perdagangan minyak sawit dipengaruhi langsung oleh pasar dunia, b) tanaman kelapa sawit adalah tanaman tahunan dengan umur ekonomis 25 tahun, c) banyak ragam industri kelapa sawit. Pelaksanaan investasi untuk perkebunan kelapa sawit harus mengkaji tentang 1) ketersediaan dan potensi lahan dan sumberdaya lainnya, 2) ketersediaan dan lokasi pasar, 3) persaingan dan keunggulan komparatif Indonesia dan 4) perhitungan rugi laba dari industri yang akan dibangun. Kontribusi minyak sawit Indonesia terhadap pasar minyak dunia (minyak nabati dan hewani) hanya sekitar 7,5%, sehingga pengaruh Indonesia relatif kecil dan tidak dapat mem-pengaruhi perdagangan minyak dunia. Oleh sebab itu untuk dapat kompetitif dan bertahan dalam industri kelapa sawit, produsen harus mengefisienkan biaya produksi, meningkatkan produktivitas dan optimasi pemanfaatan sumber daya, serta menguasai pola pemasarannya. Oleh karenanya kerjasama produsen dengan lembaga penelitian sangat penting dalam industri kelapa sawit.
|
|
| |