| Tri Haryati, Donald Siahaan dan Kamariah Long | Kesadaran atas keamanan pangan produk sawit meningkat belakangan ini. Antisipasi metode analisis untuk menjamin keamanan pangan perlu dilakukan. Salah satu bahan aditif penting yang digunakan dalam olein dan shortening (produk pangan utama dari minyak sawit) adalah antioksidan sintetik. Penggunaan antioksidan sintetik tidak boleh melebihi 200 ppm karena dapat mengakibatkan gangguan pada kesehatan manusia. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh metode analisis antioksidan pada olein dan shortening dengan metode yang lebih cepat namun tetap akurat dan tidak menggunakan pelarut organik. Metode differential scanning calorimetry (DSC) merupakan salah satu jawaban atas persoalan tersebut. Analisis dilakukan dengan metode standar menggunakan HPLC dan pengembangan teknik dengan metode DSC. Pengembangan teknik DSC untuk analisis antioksidan yang terkandung dalam olein dan shortening melalui tahapan (i) Uji konsistensi, dilakukan untuk melihat konsistensi dari variabel yang akan digunakan sebagai indikator dalam menentukan kandungan antioksidan, (ii) membangun persamaan standar dengan menggunakan variabel DSC yang konsisten (diperoleh dari tahapan i) sebagai variabel bebas, sedangkan nilai yang diperoleh dengan metode standar digunakan sebagai variabel tidak bebas, (iii) verifikasi, dilakukan untuk melihat tingkat ketepatan dari metode DSC yang dikembangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan kandungan antioksidan berdasarkan persamaan standar yang menggunakan variabel-variabel relatif konsisten (koefisien keragaman dibawah 10%) baik pada kromatogram HPLC maupun pada termogram DSC pendinginan dan pemanasan. Kandungan antioksidan dalam olein dan shortening dengan alat HPLC, masing-masing dapat diduga melalui persamaan standar Y = 0.00042 X (r = 0.992) untuk sampel olein, dan Y = 0.00084 X (r = 0.985) untuk sampel shortening; dimana Y adalah konsentrasi antioksidan dan X adalah luas area puncak yang muncul pada kromatogram HPLC. Kandungan antioksidan dalam olein dengan alat DSC dapat diduga melalui persamaan standar Y = -516.864 + 0,018 X1 (r = 0.92) atau Y = -134,002 – 0,013 X2 (r = 0,92) dimana Y adalah konsentrasi antioksidan dan X1 adalah besaran energi pada termogram pemanasan, sedangkan X2 adalah besaran energi pada termogram pendinginan. Kandungan antioksidan dalam shortening dengan alat DSC dapat diduga melalui persamaan Y = 416 + 0,009 X1 (r = 0,89) atau Y = 713 + 0,023 X (r = 0,90) dimana Y adalah konsentrasi antioksidan dan X1 adalah besaran energi puncak pada suhu – 1,5C, sedangkan X2 adalah besaran energi pada suhu 23,5 C dari termogram pendinginan. Uji korelasi antara metode HPLC dan DSC sangat tinggi sehingga menunjukkan bahwa metode DSC terverifikasi untuk digunakan dalam analisis antioksidan pada olein dan shortening.Kelebihan teknik DSC dalam menduga kandungan antioksidan dalam olein dan shortening antara lain memerlukan waktu yang relatif singkat yaitu 38 menit, tidak menggunakan pelarut, relatif aman bagi teknisi dan ramah lingkungan. | Studi Pendahuluan Pemanfaatan Asam Lemak Sawit Distilat sebagai Bahan Baku Minyak Dasar Pelumas | | Tjahjono Herawan, Renni Yuliasari, Purboyo Guritno dan Handaka | Pada saat ini minyak pelumas yang beredar di pasar umumnya mengunakan bahan baku yang berasal dari turunan minyak bumi. Ketersediaan minyak bumi sangat terbatas dan merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Minyak pelumas dari minyak nabati telah dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan. Pada umumnya minyak pelumas tersebut disintesis dari ester asam lemak dengan rantai karbon antara C6 – C22. Minyak dasar pelumas telah berhasil disintesis dari asam lemak sawit distilat. Minyak dasar pelumas tersebut mempunyai karakteristik yang mendekati karakteristik pelumas konvensional terutama M-SAE 10, yaitu viskositas pada 40 oC sebesar 25 – 35 cSt, viskositas indeks 138 – 196 serta flash point 198 - 209 oC. Namun minyak dasar pelumas tersebut mempunyai nilai pour point antara 8 – 15 oC. | Sifat Fisik, Mekanik dan Daya Pelapukan Polipot Tandan Kosong Sawit | | Polibeg plastik biasa digunakan sebagai kantong tempat media tumbuh bibit kelapa sawit di pembibitan. Kebutuhan polibeg untuk satu hektar kebun kelapa sawit sebanyak 200 lembar. Dengan rata-rata pertambahan areal perkebunan kelapa sawit sebesar 100.000 ha/tahun, maka akan dibutuhkan 20 juta lembar atau 100 ton kantong plastik mini. Terjadinya krisis ekonomi di Indonesia menyebabkan harga kantong plastik mengalami kenaikan sebesar 180 – 200%. Di lain pihak tandan kosong sawit merupakan hasil samping pabrik kelapa sawit yang memiliki potensi sebagai sumber serat untuk produk berbasis serat. Pemanfaatan tandan kosong sawit masih terbatas, sementara jumlahnya melimpah dan berkesinambungan sehingga perlu upaya memanfaatkan hasil samping ini untuk meningkatkan nilai tambah. Pemanfaatan tandan kosong sawit sebagai bahan baku polipot telah dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi masalah kelangkaan polibeg. Polipot tandan kosong sawit adalah suatu kantong yang terbuat dari tandan kosong sawit yang diuraikan dan dibentuk dengan proses sistem kempa dingin seperti polibeg dan dapat digunakan sebagai media tumbuh tanaman di pembibitan kelapa sawit. | Variasi Waktu Antara Pecah Seludang dan Analis Bunga Kelapa Sawit | | Sjafrul Latif dan Subronto | Telah dilakukan pengamatan perkembangan bunga dari empat persilangan kelapa sawit yang ditanam di kebun percobaan Sei Pancur. Bunga diamati sejak mulai pecah seludang hingga bunga mencapai stadia antesis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keragaan lamanya waktu yang diperlukan suatu jenis persilangan untuk mencapai masa antesis. Penelitian dilakukan dalam upaya meningkatkan daya kecambah benih, yang salah satu tahapannya antara lain melakukan pembungkusan berdasarkan masa antesis bunga yang bersangkutan. Pengamatan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara satu persilangan dengan persilangan lainnya. Lamanya waktu sejak bunga pecah seludang hingga antesis sangat dipengaruhi oleh jenis persilangan. Pada perkawinan sendiri (selfing), waktu tersebut sangat menyebar mulai empat hari hingga 32 hari pada persilangan DyxDy, sementara pada persilangan DxD bunga antesis setelah 10 hingga 32 hari sejak bunga pecah seludang. | Studi Awal Kualitas Minyak Goreng Kelapa Sawit pada Penggorengan Berulang Produk Tertentu | | Donald Siahaan, Sabarida Silalahi, dan Makmur Effendy Siregar | Minyak kelapa sawit telah menjadi minyak goreng dominan bagi konsumen rumah tangga dan konsumen industri di Indonesia. Kebanyakan menggoreng dilakukan dengan cara deep frying yang sering digunakan berulang. Perubahan fisikokimia selama penggorengan berulang cara deep frying pada minyak sawit telah diteliti. Stabilitas hidrolitik dan oksidatif minyak goreng yang digunakan berulang hingga 40 kali pada penggorengan deep frying suhu 150oC masih baik. Secara detail pemenuhan karakteristik stabilitas sebagai berikut: bau minyak goreng awal maupun minyak goreng bekas relatif normal, tidak memberi off flavor, titik asap cukup jauh dari batas 180oC mengindikasikan kemampuannya mengurangi efek yang tidak menyenangkan pada produk goreng dan kualitas minyak goreng bekas, kandungan senyawa polar relatif dapat ditolerir karena tidak cukup berarti mengganggu kualitas produk yang digoreng dan kepraktisan proses clean-up peralatan menggoreng, bilangan peroksida yang masih jauh di bawah 125 mek/kg dan bilangan anisidin yang masih dapat ditoleransi. Secara umum, minyak goreng dapat digunakan hingga 40 kali penggorengan berulang tanpa menyebabkan perubahan drastik stabilitas hidrolitik dan oksidatif yang melebihi ambang yang diperkenankan. Malahan, minyak goreng kelapa sawit diprediksi dapat digunakan hingga 88 kali penggorengan bila dilihat dari stabilitas hidrolitik bahkan hingga 129 kali pengulangan bila stabilitas hidrolitik diabaikan. | | | | |