* Pengolahan tanah-tanah aquik di perkebunan kelapa sawit * Kerugian akibat sanitasi buruk pada kultur teknis tanaman kelapa sawit * Peranan perkebunan kelapa sawit dalam pembangunan regional dari segi ekonomi makro (Studi kasus Sumatera Utara)
* Pemanfaatan fraksi padat dari Pabrik minyak Goreng (PMG) super mini sebagai bahan pembuatan sabun cuci | Pengolahan tanah-tanah aquik di perkebunan kelapa sawit | Tanah-tanah aquik mempunyai beberapa faktor pembatas berat antara lain berupa drainase tanah yang jelek, kesuburan kimia tanah yang rendah-sedang, dan sifat fisik tanah yang bervariasi. Tanah ini biasanya menyebar pada dataran yang cukup luas dan kadang-kadang dijumpai pada areal yang sempit antara punggung-punggung bukit. Meskipun tanah ini merupakan tanah marginal dengan beberapa faktor pembatas namun areal dengan tanah ini sudah cukup luas dibuka untuk pertanaman kelapa sawit. Potensi aktual tanah ini biasanya masuk dalam kelas lahan S3 atau NI tergantung pada intensitas faktor pem batas yang dimiliki. Sedangkan Potensi potensial tanah ini dapat mencapai kelas S3 atau S2 jika dilakukan pengelolaan secara tepat terutama masalah drainase. Upaya yang perlu dilakukan untuk mengatasi drainase ini seharusnya sudah dilakukan sejak pembukaan awal yaitu dengan membangun sistem drainase yag tepat. Dengan demikian sejak penanaman pertumbuhan tanaman tidak mengalami hambatan akibat sistem drainase yang sangat terhambat/tergenang yang menyebabkan penyerapan unsur hara yang ada di dalam tanah ataupun yang diberikan melalui pemupukan tidak dapat efisien dan efektif diserap oleh tanaman. Tanah-tanah Aquik ini terdapat pada areal rendahan di hampir seluruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Kebanyakan pihak perkebunan belum mengelola areal ini secara maksimal karena menganggap kontribusinya yang rendah. Kelas kesesuaian lahan aktual dari lahan ini biasanya S3 (agak sesuai) dan NI (tidak sesuai bersyarat. Perbaikan sistem drainase tanah dengan pembangunan parit drainase, tapak timbun dan pemberian pupuk dengan sistem pocket merupakan tindakan pengelolaan yang dapat dilakukan terhadap tanah aquik . Perbaikan, faktor pembatas ini akan menjadikan kelas kesesuaian lahan aktual menjadi S2 dan S3. Produktivitas tanaman pada salah satu kebun di Sumatera Utara pada tanah-tanah aquik dengan perlakuan pengelolaan yang baik dapat memberikan hasil 97-103 % dari potensi produktivitas kelas lahan S2. | Kerugian akibat sanitasi buruk pada kultur teknis tanaman kelapa sawit | | Arsyad D. Koedadiri, Roletta Y. Purba dan P. Purba |
Permasalahan sanitasi (kebersihan) tanaman sering terjadi di lapangan dan menimbulkan dampak kerugian yang cukup besar, namun seringkali dianggap sebagai hal yang biasa (sepele). Paradigma tersebut perlu diluruskan karena sanitasi yang jelek dapat menimbulkan kerugian (produksi) yang cukup besar dan berdampak terhadap pemeliharan kultur teknis tanaman selanjutnya. Salah satu kerugian tersebut adalah munculnya penyakit busuk tandan (Marasmius bunch rot) yang dipicu oleh komunitas jamur Marasmius palmivorus. Penyakit ini sering terjadi pada tanaman belum menghasilkan (TBM) dan saat peralihan ke tanaman menghasilkan (TM) hingga umur 10 tahun. Besarnya kerugian akibat penyakit ini pada kasus berat dapat mencapai Rp 1-2,3 juta per ha. Dampak kerugian lain yang cukup nyata adalah terjadi masa stagnasi produksi (kevakuman panen) atau gagal panen 2 hingga 3 bulan kemudian. Kerugian ikutan lainnya dapat berupa kegagalan tandan masak atau tandan tidak sempurna dengan kandungan asam lemak bebas (ALB) yang cukup tinggi. Pengendalian penyakit ini sebenarnya cukup sederhana yaitu dengan mengkondisikan lingkungan perkembangan jamur M. palmivorus agar tidak kondusif yaitu dengan mengubah atau mengurangi kelembaban di sekitar pohon tanaman. Pada kasus yang cukup berat selain upaya mengurangi kelembaban yang tinggi, penyemprotan dengan fungisida 2 hingga 3 kali umumnya dapat mengendalikan penyakit ini. | Peranan perkebunan kelapa sawit dalam pembangunan regional dari segi ekonomi makro (Studi kasus Sumatera Utara) | Paper yang berjudul "Peranan Perkebunan Kelapa Sawit dalam Pembangunan Regional dari segi Ekonomi Makro " ini merupakan basil penelitian data sekunder yang dilaksanakan di provinsi Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini adalah: a) mengetahui sumbangan hasil perkebunan kelapa sawit terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), b) mengetahui peranan kelapa sawit pada penyerapan tenaga kerja, penerimaan sektor fiskal dan pengembangan wilayah. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif analisis. Ditinjau dari segi kontribusi subsektor, maka perkebunan merupakan penyumbang terbesar dalam sektor pertanian. Pada tahun 2002, subsektor ini memberikan kontribusi sebesar Rp10,04 trilyun (39,78%). Walaupun terjadi penurunan dalam persentase dibanding tahun 2001 yang sebesar 40,16%, tetapi kontribusi subsektor ini terhadap sektor pertanian masih paling tinggi dibandingkan subsektor lainnya. Tingginya kontribusi subsektor perkebunan ini oleh karena perkebunan di Sumatera Utara memang sudah mulai diusahakan secara komersial sejak zaman kolonial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai produksi kelapa sawit di Sumatera Utara pada tahun 2003 menurut harga berlaku adalah Rp10,15 triliun, dengan kontribusi terhadap perkebunan, pertanian dan PDB seluruh sektor berturut-turut adalah 87%, 37% dan 11%. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Rp3,8 milyar Pajak Penghasilan (PPh) Rp1,57 triliun, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Rp890,4 milyar dan Pajak Ekspor (PE) Rp154,9 milyar. Sampai akhir 2003 areal kelapa sawit 760.387 ha, keperluan tenaga kerja untuk kegiatan kerja di kebun adalah 4 orang setiap 10 ha, maka jumlah yang dapat diserap adalah 1.836.510 orang. Jumlah pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) mencapai 85 unit dengan kapasitas olah total 3.400 ton tandan buah segar (TBS) per jam. Dalam setiap PKS yang berkapasitas olah 30 ton TBS perjam diperlukan tenaga kerja sebanyak 136 orang, maka untuk seluruh PKS diperlukan 15.400 orang. Tenaga kerja dalam jumlah banyak lagi akan dapat diserap oleh industri hilir yang berbahan baku kelapa sawit. Pembangunan perkebunan juga meliputi pembangunan prasarana dan sarana fisik, seperti: jalan, jembatan, gedung sekolah, tempat ibadah dan sarana lainnya. Untuk selanjutnya diikuti dengan pengembangan kegiatan ekonomi dan sosial, misalnya pusat perdagangan, lembaga keuangan, lembaga pendidikan, pusat kesehatan, olah raga, hiburan dan lain-lain. | Pemanfaatan fraksi padat dari Pabrik minyak Goreng (PMG) super mini sebagai bahan pembuatan sabun cuci | | Eka Nuryanto dan Tri Haryati |
Pusat Penelitian Kelapa Sawit telah berhasil mengembangkan Pabrik Kelapa Sawit Super Mini (PKS-SM) dengan kapasitas 1.000 kg Tandan Buah Segar per jam. Sebagai tindak lanjut dari PKS-SM tersebut, saat ini Pusat Penelitian Kelapa Sawit telah mengembangkan Pabrik Minyak Goreng Super Mini (PMG-SM) dengan kapasitas 2 - 4 ton CPO per hari. Selain menghasilkan fraksi cair (minyak goreng), PMG-SM juga menghasilkan fraksi padat, yang merupakan campuran dari stearin dan asam lemak bebas yang telah ternetralkan. Fraksi padat tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuatan sabun mandi maupun sabun cuci. Hasil penelitian memperlihatkan karakteristik sabun cuci yang berasal dari fraksi padat PMGSM sama dengan sabun cuci komersial. Sabun cuci yang dibuat dengan bahan baku fraksi padat PMG-SM mempunyai kandungan alkali bebas 0,05 %, sedangkan kandungan minyak tak tersabunkan adalah 1,85°o. Kedua parameter ini telah memenuhi syarat mutu untuk sabun cuci. Sementara itu uji penerimaan konsumen secara terbatas memperlihatkan bahwa sabun cuci yang dibuat dari fraksi padat PMG-SM ini dapat diterima oleh konsumen. Terintegrasinya PKS-SM, PMG-SM, dan Pabrik Sabun Cuci Super Mini (PSC-SM) diharapkan akan memberikan nilai tambah terhadap pekebun kelapa sawit dan terjaminnya ketersediaan minyak goreng dan sabun cuci di daerah pedalaman. |
|
| Pertumbuhan Dan Serapan Hara Bibit Kelapa Sawit Pada Medium Tanam Sub Soil Tanah Typic Paleudult, Typic Tropopsamment Dan Typic Haplidult | | Penelitian penggunaan medium tanam sub soil pada pembibitan utama kelapa sawit telah dilakukan di lokasi pembibitan kebun Percobaan Aek Pancur. Medium tanam yang digunakan sebagai perlakuan adalah sub soil tanah Typic Paleudult, Typic Tropopsamment, dan Typic Hapludult, yang diambil pada kedalaman 50-100 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan serapan hara bibit umur 11 bulan di pembibitan utama dengan medium sub soil tanah Typic Hapludult secara umum lebih baik dibandingkan perlakuan penggunaan medium sub soil Typic Tropopsamment dan Typic Paleudult, sedangkan pada tanah Typic Paleudult menunjukkan pertumbuhan dan serapan hara bibit yang paling rendah. Kandungan Al tertukar yang cukup tinggi dalam tanah Typic Paleudult menekan pertumbuhan akar bibit dan menurunkan serapan hara bibit. Medium sub soil Typic Hapludult dalam percobaan dapat digunakan sebagai medium alternatif untuk pembibitan utama kelapa sawit dengan perlakuan pemupukan sesuai dosis dan waktu aplikasi standar pemupukan di pembibitan utama.
| Profil Dan Prospek Pengembangan Industri Kelapa Sawit | | Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Indonesia, dengan pangsa pasar yang terus meningkat serta perkembangan permintaan dari Australia, China, Korea, India, Nigeria dan dalam negeri. Dalam upaya pengembangan kelapa sawit para investor perlu menyadari bahwa a) perdagangan minyak sawit dipengaruhi langsung oleh pasar dunia, b) tanaman kelapa sawit adalah tanaman tahunan dengan umur ekonomis 25 tahun, c) banyak ragam industri kelapa sawit. Pelaksanaan investasi untuk perkebunan kelapa sawit harus mengkaji tentang 1) ketersediaan dan potensi lahan dan sumberdaya lainnya, 2) ketersediaan dan lokasi pasar, 3) persaingan dan keunggulan komparatif Indonesia dan 4) perhitungan rugi laba dari industri yang akan dibangun. Kontribusi minyak sawit Indonesia terhadap pasar minyak dunia (minyak nabati dan hewani) hanya sekitar 7,5%, sehingga pengaruh Indonesia relatif kecil dan tidak dapat mem-pengaruhi perdagangan minyak dunia. Oleh sebab itu untuk dapat kompetitif dan bertahan dalam industri kelapa sawit, produsen harus mengefisienkan biaya produksi, meningkatkan produktivitas dan optimasi pemanfaatan sumber daya, serta menguasai pola pemasarannya. Oleh karenanya kerjasama produsen dengan lembaga penelitian sangat penting dalam industri kelapa sawit.
|
|
|
|
|