| Kebutuhan terhadap barang-barang yang terbuat dari papan partikel semakin meningkat dan bervariasi, seperti perkakas rumah tangga, furnitur, meja belajar, meja komputer, dinding penyekat, dan peredam suara. Papan partikel merupakan salah satu produk industri perkayuan yang memiliki prospek cukup baik di masa mendatang. Umumnya bahan baku papan partikel berasal dari sisa pengolahan kayu di industri penggergajian, sehingga tidak memerlukan persyaratan kualitas bahan baku yang tinggi. Seiring dengan peningkatan industri perkayuan di Indonesia, ketersediaan kayu di hutan baik jumlah maupun kualitasnya semakin terbatas. Hal ini berpengaruh juga terhadap kebutuhan bahan baku kayu bagi industri papan partikel. Untuk itu perlu dicari sumber bahan baku lain yang dapat mensubstitusi partikel kayu. Dilain pihak industri kelapa sawit menghasilkan limbah padat berupa tandan kosong sawit yang jumlahnya cukup besar dan sampai saat ini pemanfaatannya masih terbatas. Tandan kosong sawit merupakan limbah berlignoselulosa dengan kadar serat mencapai 72,67%, sehingga mempunyai potensi sebagai bahan baku produk panel, seperti papan partikel. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pemanfaatan tandan kosong sawit sebagai bahan baku papan partikel. Dalam persiapan bahan baku, tandan kosong sawit dirajang, dipres, dan dikeringkan sampai kadar air 10%. Selanjutnya pembuatan papan partikel dari rajangan tandan kosong sawit dilakukan dengan sistem pengempaan dingin dan panas. Berdasarkan hasil penelitian, sifat fisik dan mekanik papan partikel dari tandan kosong sawit telah memenuhi Standar Nasional Indonesia untuk penggunaan interior. | Keragaan dan produktifitas klon kelapa sawit asal kultur jaringan di Sumatera bagian Utara | | Bahan tanaman kelapa sawit asal kultur jaringan yang dihasilkan Pusat Penelitian Kelapa Sawit telah ditanam di beberapa perkebunan untuk evaluasi lapangan. Pada makalah ini dikemukakan hasil pengamatan keragaan dan produktifitas tanaman klon di Sumatera bagian utara meliputi Nangro Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara dan Riau. Produksi Tandan Buah Segar (TBS) pada tanaman yang berbuah normal adalah 20-30% lebih tinggi dari tanaman asal biji. Sedangkan tanaman yang tingkat abnormalitasnya cukup tinggi menghasilkan TBS lebih rendah dan sangat tergantung kepada persentase abnormalitas yang terjadi. | Transesterification of palm kernel oil with Dialkyl Carbonates using Lipase As Biocatalyst | | Tjahjono Herawan, M. Ruesch gen .Klass, and S. Warwel | Penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit yang disebabkan oleh serangan Ganoderma merupakan penyakit yang sangat merugikan. Pada generasi pertama serangan penyakit ini sangat rendah, dengan semakin bertambahnya generasi tanam berikutnya maka percentage serangan akan semakin tinggi, dan gejala penyakit sudah dapat terlihat pada awal pertumbuhan tanaman. Beberapa usaha untuk mengatasi penyakit ini telah ditempuh salah satu adalah penggunaan Marfu yang diharapkan merupakan suatu cara yang efektif dan memuaskan. Selain itu juga dilakukan pendekatan lain yaitu dari segi material tanaman dan ketahanannya terhadap patogen. Beberapa individu DxP yang diduga toleran saat ini sedang dalam pengamatan. Hasil analisis kandungan tannin dari contoh yang diambil dari lapang dalam jaringan tanaman yang terserang dan tanaman what menunjukkan bahwa kandungan tanin dari tanaman what lebih rendah daripada tanaman terserang penyakit. Informasi ini selanjutnya akan digunakan sebagai dasar pemilihan individu kelapa sawit yang unggul dari segi produksi, sekaligus toleran terhadap Ganoderma. Basal stem rot disease caused by Ganoderma is a destructive disease in oil palm. In the first generation, the disease attack is still low but in the next generation the percentage of disease attack will be higher and the symptoms will appear in the early stage of the oil palm growth. Some efforts to overcome the disease have been done, one of the promising method is by application of Marfu as an biofungicide. In the other hand, an approach by screenning of planting material and its tolerance against pathogen is carried out. Some DxP individuals expected to have tolerance againstand healthy plants showed that tissues of healthy plant indicate a lower tannin than the infected plant. This information will be used to screen oil palm that superior in production and tolerance against Ganoderma. | Pengembang Sosial Ekonomi Regional Melalui Pengusahaan Perkebunan Kelapa Sawit. Studi kasusu Kabupaten Kampar, Propinsi Riau | Minyak kelapa sawn merupakan sumber beta-karoten dan vitamin E yang tinggi. Diversifikasi minyak sawn menjadi suplemen makanan yang memanfaatkan kandungan gizi minor yang tinggi ini merupakan strategi yang baik untuk meningkatkan nilai tambahnya sekaligus penyediaan gizi minor bagi masyarakat dengan mengandalkan produk lokal. Tulisan ini melaporkan basil penelitian pengembangan teknologi proses mikroenkapsulasi minyak makan merah untuk dapat digunakan sebagai bahan suplemen (farmasetikal atau nutrasetikal) dan fortifikan produk pangan sumber provitamin A dan vitamin E. Proses mikroenkapsulasi minyak makan merah dilakukan melalui penyemprotan emulsi minyak dan air dengan metode spray drying menggunakan beberapa jenis bahan penyalut. Faktor faktor lain yang diteliti adalah Jumlah minyak dalam formula (30 - 70% b/b bahan penyalut) serta kondisi homogenisasi yang mencakup kecepatan putar alat homogenizer dan teknik pencampuran bahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laktosa Na-caseinat dan fi-cyclodextrin merupakan bahan penyalut yang paling baik untuk pembuatan mikrokapsul minyak makan merah. Jumlah minyak optimum yang digunakan pada bahan penyalut laktosa Na-caseinat adalah 30%, sedangkan,8-cyclodextrin adalah 44%. Jumlah minyak yang terenkapsulasi pada bahan penyalut laktosa Na-caseinat lebih tinggi dibandingkan yang terdapat pada permukaan mikrokapsul, dan hal sebaliknya yang terjadi pada bahan penyalut /j-cyclodextrin. Terdapat penurunan kandungan karoten pada minyak makan merah yang dienkapsulasi apabila dibandingkan dengan bahan baku minyak awalnya, di mana tingkat retensi karoten minyak makan merah yang terdapat pada mikrokapsul berkisar 73 - 90%. Sebaliknya, kandungan a-tokoferol pada minyak makan merah yang dienkapsulasi relatif stabil. Penambahan minyak yang dilakukan secara bertahap pada saat proses emulsifikasi merupakan cara yang lebih baik untuk meningkatkan efektivitas proses mikroenkapsulasi. Dengan ca ra ini, kecepatan perputaran homogenizer yang dibutuhkan tidak perlu terlalu tinggi (1500 rpm). Industri kelapa sawit (Elaeis guineensis) di Indonesia dari sisi ekonomi makro serta kaitannya dengan Program Penelitian dan Pengembangan | | Teguh Wahyono, dan Luqman Erningpraja | Minyak kelapa sawn merupakan sumber beta-karoten dan vitamin E yang tinggi. Diversifikasi minyak sawn menjadi suplemen makanan yang memanfaatkan kandungan gizi minor yang tinggi ini merupakan strategi yang baik untuk meningkatkan nilai tambahnya sekaligus penyediaan gizi minor bagi masyarakat dengan mengandalkan produk lokal. Tulisan ini melaporkan basil penelitian pengembangan teknologi proses mikroenkapsulasi minyak makan merah untuk dapat digunakan sebagai bahan suplemen (farmasetikal atau nutrasetikal) dan fortifikan produk pangan sumber provitamin A dan vitamin E. Proses mikroenkapsulasi minyak makan merah dilakukan melalui penyemprotan emulsi minyak dan air dengan metode spray drying menggunakan beberapa jenis bahan penyalut. Faktor faktor lain yang diteliti adalah Jumlah minyak dalam formula (30 - 70% b/b bahan penyalut) serta kondisi homogenisasi yang mencakup kecepatan putar alat homogenizer dan teknik pencampuran bahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laktosa Na-caseinat dan fi-cyclodextrin merupakan bahan penyalut yang paling baik untuk pembuatan mikrokapsul minyak makan merah. Jumlah minyak optimum yang digunakan pada bahan penyalut laktosa Na-caseinat adalah 30%, sedangkan,8-cyclodextrin adalah 44%. Jumlah minyak yang terenkapsulasi pada bahan penyalut laktosa Na-caseinat lebih tinggi dibandingkan yang terdapat pada permukaan mikrokapsul, dan hal sebaliknya yang terjadi pada bahan penyalut /j-cyclodextrin. Terdapat penurunan kandungan karoten pada minyak makan merah yang dienkapsulasi apabila dibandingkan dengan bahan baku minyak awalnya, di mana tingkat retensi karoten minyak makan merah yang terdapat pada mikrokapsul berkisar 73 - 90%. Sebaliknya, kandungan a-tokoferol pada minyak makan merah yang dienkapsulasi relatif stabil. Penambahan minyak yang dilakukan secara bertahap pada saat proses emulsifikasi merupakan cara yang lebih baik untuk meningkatkan efektivitas proses mikroenkapsulasi. Dengan ca ra ini, kecepatan perputaran homogenizer yang dibutuhkan tidak perlu terlalu tinggi (1500 rpm). | | | | |