| Pemilihan hibrida terbaik yang akan direproduksi untuk keperluan komersial merupakan salah satu tujuan dari skema seleksi berulang timbal balik yang digunakan pada program pemuliaan kelapa sawit. Pada tanaman tahunan adanya metode yang memungkinkan pemulia menguji hanya hibrida yang menjanjikan akan mengurangi waktu dan lahan yang dibutuhkan untuk pengujian. Metode best linear unbiased prediction (BLUP) yang mengkombinasikan nilai hubungan antar tetua dan uji projeni mungkin adalah metode yang cocok untuk tujuan tersebut. Tujuan dari studi ini adalah membandingkan penggunaan coefficient of parentage yang diperoleh dengan teknologi molekuler amplified fragment length polymorphism (AFLP) dengan koefisien yang diperoleh dari data pedigri untuk memprediksi nilai suatu hibrida. Sebanyak 61 poin data, diperoleh dari 50 hibrida hasil persilangan 22 tetua Deli dengan 20 tetua Afrika digunakan dalam studi ini. Model aditif dari BLUP telah diaplikasikan dengan menggunakan coefficient of parentage, baik yang dihitung dari 158 marka AFLP maupun yang dihitung dari data pedigri, untuk memprediksi nilai suatu hibrida. Meskipun terdapat perbedaan nilai coefficient of parentage dari kedua metode, nilai korelasi sebesar 0,60 dan 0, 84, masing-masing untuk tetua Deli dan Afrika, tampak cukup baik. Korelasi antara nilai hibrida yang diobservasi dengan yang diprediksi hampir lama untuk kedua metode dengan nilai masing-masing dari 0,39 sampai 0,79 untuk jumlah tandan, 0,31 sampai 0, 68 untuk produksi tandan, 0,28 sampai 0, 65 untuk produksi minyak dan 0,42 sampai 0,84 untuk pertumbuhan meninggi. Studi ini menunjukkan kegunaan metode BLUP untuk memprediksi nilai suatu hibrida yang tidak diuji. Prediksi dapat dilakukan dengan menggunakan nilai hubungan genetik yang diperoleh dari marka AFLP apabila tidak tersedia catatan pedigri ataupun bila data pedigri tersebut diragukan keakuratannya. | Upaya mendapatkan bahan tanaman kelapa sawit yang toleran Ganoderma boninense | | Subronto, R.Y. Purba, E. Suprianto dan R.D. Setiowati | Penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit yang disebabkan oleh serangan Ganoderma merupakan penyakit yang sangat merugikan. Pada generasi pertama serangan penyakit ini sangat rendah, dengan semakin bertambahnya generasi tanam berikutnya maka percentage serangan akan semakin tinggi, dan gejala penyakit sudah dapat terlihat pada awal pertumbuhan tanaman. Beberapa usaha untuk mengatasi penyakit ini telah ditempuh salah satu adalah penggunaan Marfu yang diharapkan merupakan suatu cara yang efektif dan memuaskan. Selain itu juga dilakukan pendekatan lain yaitu dari segi material tanaman dan ketahanannya terhadap patogen. Beberapa individu DxP yang diduga toleran saat ini sedang dalam pengamatan. Hasil analisis kandungan tannin dari contoh yang diambil dari lapang dalam jaringan tanaman yang terserang dan tanaman what menunjukkan bahwa kandungan tanin dari tanaman what lebih rendah daripada tanaman terserang penyakit. Informasi ini selanjutnya akan digunakan sebagai dasar pemilihan individu kelapa sawit yang unggul dari segi produksi, sekaligus toleran terhadap Ganoderma. Basal stem rot disease caused by Ganoderma is a destructive disease in oil palm. In the first generation, the disease attack is still low but in the next generation the percentage of disease attack will be higher and the symptoms will appear in the early stage of the oil palm growth. Some efforts to overcome the disease have been done, one of the promising method is by application of Marfu as an biofungicide. In the other hand, an approach by screenning of planting material and its tolerance against pathogen is carried out. Some DxP individuals expected to have tolerance againstand healthy plants showed that tissues of healthy plant indicate a lower tannin than the infected plant. This information will be used to screen oil palm that superior in production and tolerance against Ganoderma. | Mikroenkapsulasi minyak makan merah untuk produk suplemen dan fortifikan pangan | | Jenny Elisabeth, Donald Siahaan dan Nuri Andarwulan | Minyak kelapa sawn merupakan sumber beta-karoten dan vitamin E yang tinggi. Diversifikasi minyak sawn menjadi suplemen makanan yang memanfaatkan kandungan gizi minor yang tinggi ini merupakan strategi yang baik untuk meningkatkan nilai tambahnya sekaligus penyediaan gizi minor bagi masyarakat dengan mengandalkan produk lokal. Tulisan ini melaporkan basil penelitian pengembangan teknologi proses mikroenkapsulasi minyak makan merah untuk dapat digunakan sebagai bahan suplemen (farmasetikal atau nutrasetikal) dan fortifikan produk pangan sumber provitamin A dan vitamin E. Proses mikroenkapsulasi minyak makan merah dilakukan melalui penyemprotan emulsi minyak dan air dengan metode spray drying menggunakan beberapa jenis bahan penyalut. Faktor faktor lain yang diteliti adalah Jumlah minyak dalam formula (30 - 70% b/b bahan penyalut) serta kondisi homogenisasi yang mencakup kecepatan putar alat homogenizer dan teknik pencampuran bahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laktosa Na-caseinat dan fi-cyclodextrin merupakan bahan penyalut yang paling baik untuk pembuatan mikrokapsul minyak makan merah. Jumlah minyak optimum yang digunakan pada bahan penyalut laktosa Na-caseinat adalah 30%, sedangkan,8-cyclodextrin adalah 44%. Jumlah minyak yang terenkapsulasi pada bahan penyalut laktosa Na-caseinat lebih tinggi dibandingkan yang terdapat pada permukaan mikrokapsul, dan hal sebaliknya yang terjadi pada bahan penyalut /j-cyclodextrin. Terdapat penurunan kandungan karoten pada minyak makan merah yang dienkapsulasi apabila dibandingkan dengan bahan baku minyak awalnya, di mana tingkat retensi karoten minyak makan merah yang terdapat pada mikrokapsul berkisar 73 - 90%. Sebaliknya, kandungan a-tokoferol pada minyak makan merah yang dienkapsulasi relatif stabil. Penambahan minyak yang dilakukan secara bertahap pada saat proses emulsifikasi merupakan cara yang lebih baik untuk meningkatkan efektivitas proses mikroenkapsulasi. Dengan ca ra ini, kecepatan perputaran homogenizer yang dibutuhkan tidak perlu terlalu tinggi (1500 rpm). | | |