| Dja'far dan Teguh Wahyono |
Tujuan penelitian mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas dan profit pada industri kelapa sawit. Skala usaha perkebunan kelapa sawit terletak pada fase decreasing return to scale yang rasional tetapi belum optimal. Ini berarti profit perusahaan masih dapat ditingkatkan. Rata-rata produktivitas tanaman rendah sekitar 67,5% dari potensi KKL S3, serta hanya 10,9 % perusahaan perkebunan yang memiliki produktivitas di atas KKL S3.Analisis produksi menunjukkan biaya perawatan tanaman menghasilkan berkorelasi negatif dengan produksi, sedangkan biaya pemupukan, panen, dan biaya umum berkorelasi positip dengan produksi. Komposisi umur tanaman belum optimal karena persentase luas areal tanaman tua (umur 21-25 tahun) cukup besar yaitu 33,55 % sedangkan tanaman remaja (3-5 tahun) 2,61 %. Untuk itu demi kesinambungan usaha pola peremajaan optimal per tahun adalah 4,5% dari total areal. Indikator BEP dicapai pada harga gabungan (minyak sawit dan inti sawit) Rp 886,55/kg dan produktivitas 726,81 kg MS+IS/ha/tahun. Berdasarkan nilai BEP di bawah rata-rata harga jual, serta BEP produksi sangat rendah dibawah produksi yang aktual, ini menunjukkan agribisnis kelapa sawit memberikan profit yang cukup baik. | Perbaikan medium tanam dan pertumbuhan bibit kelapa sawit melalui aplikasi Zeolit | | Winarna, E.S. Sutarta dan W. Darmosarkoro |
Zeolit diketahui dapat memperbaiki kesuburan tanah antara lain melalui peningkatan kapasitas tukar kation. Penelitian aplikasi zeolit pada pembibitan kelapa sawit untuk mengetahui pengaruhnya terhadap medium tanam dan pertumbuhan serta serapan hara bibit kelapa sawit telah dilakukan di areal pembibitan kelapa sawit kebun percobaan Aek Pancur dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Medium yang digunakan adalah tanah Typic Paleudults, Typic Udipsamments, dan Typic Hapludults. Perlakuan aplikasi zeolit terdiri dari 4 taraf dosis yaitu 0, 50, 100, dan 150 g/polibeg. Hasil penelitian menunj ukkan bahwa pemberian zeolit ke dalam tanah umumnya mampu meningkatkan kandungan hara dalam tanah dan kapasitas tukar kation tanah. Aplikasi zeolit sebagai bahan pembenah tanah pada pembibitan kelapa sawit tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan serapan hara bibit hingga umur 11 bulan. Namun demikian, secara umum aplikasi zeolit hingga dosis 100 g/polibeg cenderung dapat meningkatkan pertumbuhan dan serapan hara bibit dibandingkan dengan perlakuan tanpa aplikasi zeolit, sedangkan aplikasi dengan dosis hingga 150 g/polibeg cenderung menurunkan pertumbuhan dan serapan hara. | Perbaikan ketersediaan fofor dalam tanah perkebunan kelapa sawit melalui aplikasi bahan pembenah tanah | | E.S. Sutarta, S. Rahutomo dan Winarna |
Penelitian peningkatan ketersediaan P melalui aplikasi bahan pembenah tanah, telah dilakukan di laboratorium dengan metode inkubasi. Jenis tanah yang digunakan pada percobaan adalah Typic Paleudults dengan bahan pembenah berupa tandan kosong kelapa sawit (TKS), limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS), dan dolomit. Sumber P yang digunakan adalah rock phosphate (RP) dan SP-36. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap dengan 2 faktor yaitu aplikasi pupuk P - bahan pembenah tanah (6 level) dan waktu inkubasi (5 level) dengan ulangan 3 kali. Berdasarkan basil diperoleh bahwa peningkatan ketersediaan P dalam tanah yang tertinggi diperoleh pada perlakuan aplikasi pupuk SP-36 dibanding perlakuan yang lainnya. Hal tersebut utamanya berkaitan dengan karakteristik pupuk SP-36 yang cepat tersedia. Sementara aplikasi pupuk RP umumnya memberikan peningkatan P dalam tanah yang lebih rendah dibandingkan pupuk SP-36. Namun demikian, aplikasi RP memberi keuntungan terhadap peningkatan pH tanah yang lebih baik dibandingkan dengan pupuk SP-36. Aplikasi pupuk SP-36 dapat meningkatkan ketersediaan P dalam tanah secara cepat dalam jumlah yang cukup banyak untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Ketersediaan P dalam tanah melalui aplikasi pupuk RP dapat ditingkatkan dengan aplikasi bahan pembenah tanah seperti dolomit, TKS, dan LCPKS. Aplikasi TKS bersamaan aplikasi pupuk RP secara nyata meningkatkan P-tersedia dalam tanah hingga 150% setelah 15 minggu masa inkubasi dibandingkan perlakuan aplikasi RP secara mandiri, dan secara umum lebih baik dibandingkan aplikasi bahan pembenah tanah lainnya. | Pengembangan deodorizer dan proses deodorisasi skala bench berbahan baku olein sawit kasar | | Donald Siahaan, Jawaris Sinaga and Anton Tumanggor |
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) telah mengembangkan teknologi proses dan alat skala bench untuk menghasilkan minyak merah dan minyak makan. Salah satu masalah yang belum diselesaikan adalah proses deodorisasi untuk meningkatkan kualitas minyak. Pengembangan teknologi ini untuk mengatasi masalah rendahnya viabilitas industri kelapa sawit karena tingkat keragaman produk kelapa sawit serta sentra industri dan perkebunan yang berjauhan. Penelitian ini bertujuan merancang deodorizer skala bench dan menentukan faktor teknologi optimum yaitu suhu, tekanan uap dan waktu proses untuk deodorisasi olein kasar.Deodoriser yang dirancang dalam penelitian ini berkapasitas 3 kg/batch yang tersusun atas dua buah silinder baja anti karat berdiameter masing-masing 8,5 inci dan 6,5 inci dan tinggi 20 inci, ruang di dalam diperlengkapi dengan silinder pensirkulasi (diameter 4 inci, tinggi 12 inci, menggantung 2 inci dari dasar deodoriser) dan dihubungkan dengan pompa vakum dan pressure cooker. Hasil pengujian fungsional menunjukkan bahwa deodoriser mampu menghasilkan minyak makan merah dengan kualitas yang baik secara fisik maupun kimia. Semakin tinggi suhu proses cenderung memucatkan warna minyak yang dihasilkan karena kandungan karoten yang menurun. Suhu yang lebih tinggi juga menurunkan kadar air dan kandungan asam lemak bebas. Suhu proses yang optimum adalah 160°C dan waktu proses 120 menit dipandang dari karakteristik kehilangan bau yang tidak dikehendaki, warna, kadar air dan kadar asam lemak bebas. Pada kondisi optimum, mutu produk yang dihasilkan selain memiliki bau yang netral adalah kandungan karoten 518 ppm, tingkat warna merah 9.6, tingkat warna kuning 12.4, kadar air 0.009% dan kadar asam lemak bebas 0.171 %. |
|
|
|