Pilihan Bahasa : 

Warta Vol 11 No.1 2003

2005Vol 13, No 1 Feb 2005Vol 13, No 2 Juni 2005Vol 13, No 3 Oktober 2005 
2004Vol 12, No 1 Feb 2004Vol 12, No 2-3 Okt 2004 
2003Vol 11, No 1 Feb 2003Vol 11, No 2-3 Okt 2003 
2002Vol 10, No 1 Feb 2002Vol 10, No 2-3 Okt 2002 
2001Vol 9, No 1 Feb 2001Vol 9, No 2 Juni 2001Vol 9, No 3 Okt 2001
Vol. 11 No. 1

 

 

* Pemanfaatan global positioning system (GPS) pada perkebunan kelapa sawit

* Kajian epidemi penyakit antraknosa di pembibitan kelapa sawit

* Teknik replanting kelapa sawit yang aman terhadap penyakit Ganoderma dan Oryctes rhinoceros

* Pemupukan kelapa sawit secara rasional

* Mengatasi kendala angkutan akibat kerusakan jalan dengan paving block

* Status dan upaya peningkatan ketersediaan fosfat pada beberapa perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara

* Keselamatan kerja di laboratorium kimia

Pemanfaatan global positioning system (GPS) pada perkebunan kelapa sawit 
Heri Santoso dan M. Lukman Fadli

   Pengelolaan perkebunan kelapa sawit makin ber-kembang dengan memanfaatkan Global Positioning System (GPS). GPS sebagai alat pendukung penting dalam sistem ini berperan dalam akurasi posisi, penandaan dan pemberian simbol-simbol. Pemanfaatan GPS selain sebagai alat navigasi dengan memanfaatkan menu-menu seperti waypoint, route, dan track log dapat digunakan untuk membantu pengelolaan kebun kelapa sawit. Dengan diketahuinya koordinat kebun, pemecahan masalah kebun seperti areal yang tergenang, desain kebun pada areal yang berlereng dan pembangunan jalan akan terbantu dengan memanfaatkan koordinat kebun tersebut untuk di-overlay-kan dengan peta topografi, tanah, dan geologi yang sangat membantu dalam pemecahan masalah tersebut. Di samping itu dengan peranan GPS dapat digunakan untuk menggambar bentuk kebun, mengukur panjang dan jarak obyek satu ke obyek lainnya serta dapat digunakan untuk memberikan simbol-simbol pada obyek yang penting untuk memudahkan dalam monitoring di lapangan oleh manager kebun. Software yang digunakan untuk membaca data menggunakan GPS adalah Mapsource, DNR-Garmin, GPS Utility versi 4,15, Garmap, GPS Support, Wayp2sh, dan lain-lain. Sedangkan software yang biasa digunakan untuk mengedit.  

Kajian epidemi penyakit antraknosa di pembibitan kelapa sawit
Agus Susanto dan Sudharto Ps
   Penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Botryodiplodia sp, Glomerella sp., dan Melanconium sp merupakan penyakit penting dan sexing terjadi di pembibitan kelapa sawit di Indonesia. Kajian epidemi penyakit ini dan aplikasi informasinya sampai saat ini belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara integral dan holistik terjadinya penyakit antraknosa yang selanjutnya dapat dijadikan dasar pengelolaan penyakit antraknosa. Kajian epidemi ini meliputi inang, patogen, dan faktor lingkungan abiotik. Penelitian dilakukan di kebun pembibitan kelapa sawit milik Pusat Penelitian Kelapa Sawit yang berada di Aek Pancur yang berlangsung dari bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2000. Penelitian terdiri atas pengamatan intensitas penyakit antraknosa pada 106 persilangan D x D, 34 persilangan T x T, dan 12 persilangan T x P; penangkapan dan penghitungan jumlah spora di udara; dan pengumpulan data anasir cuaca yang terdiri dari suhu, kelembapan udara, dan curah hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit antraknosa dipengaruhi oleh genotipe kelapa sawit dan viabilitas patogen. Kategori ketahanan ke-1 50 persilangan bibit kelapa sawit tersebut adalah sebagai berikut 12 persilangan tahan (9 D x D dan 3 T x T), 76 persilangan agak tahan (40 DxD, 25 TxT, dan 11 TxP), 45 persilangan agak rentan (41 DxD, 2 TxT, dan 2 TxP), dan 17 persilangan DxD termasuk kategori rentan. Laju infeksi (r) masing­-masing kategori adalah sebagai berikut tahan = 0,- agak tahun = 0,17 unit per minggu; agak rentan =0,12 unit per minggu; dan rentan = 0, 04 unit per minggu.   
Teknik replanting kelapa sawit yang aman terhadap penyakit Ganoderma dan Oryctes rhinoceros
Agus Susanto Dan Yasin Hartono

   Luas areal kelapa sawit di Indonesia saat ini diperkirakan 4 juta hektar dengan produksi Crude Palm Oil (CPO) sebanyak 9 juta ton/tahun. Pada dekade ini, perkelapa sawitan Indonesia memasuki babak baru yaitu sebagian besar akan memasuki generasi dua. Bahkan untuk di Sumatera Utara dan sebagian Lampung rata-rata memasuki generasi tiga atau empat. Diperkirakan luas areal kelapa sawit yang siap di-replanting adalah 1, 5 juta Ha sehingga dengan asumsi kelapa sawit yang akan di-replanting per tahun adalah 5% maka tiap tahun kebun yang di-replanting sebanyak 75.000 Ha/tahun. Kebun kelapa sawit ini sebagian besar berada di Sumatera Utara. Alasan replanting seperti yang diuraikan di atas biasanya adalah produktifitas tanaman kelapa sawit yang sudah turun dan sulitnya pemanenan karena sudah terlalu tinggi. Saat ini ada sejumlah kebun kelapa sawit melakukan replanting karma serangan Ganoderma. Replanting dilakukan pada umur kebun kelapa sawit baru 15-17 tahun. Oleh karena itu, perlu dibuat konsep replanting yang aman terhadap penyakit Ganoderma atau pun hama Oryctes rhinoceros.    

Pemupukan kelapa sawit secara rasional
Edy Sigit Sutarta
   Tak dapat disangkal lagi bahwa kelangkaan pupuk yang terjadi akhir-akhir ini akan berpengaruh terhadap keberhasilan pertanian kita. Dalam hal ini kelangkaan pupuk dapat dipandang sebagai ancaman terhadap produktivitas tanaman kelapa sawit yang merupakan tanaman primadona perkebunan. Pada tahun 2003 tidak kurang dari 7 juta ton minyak sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO) dipasarkan ke luar negeri, tidak termasuk 3, S juta ton yang merupakan konsumsi dalam negeri. Ekspor CPO tersebut merupakan penghasil devisa terbesar di sektor perkebunan. Selain itu industri kelapa sawit menyangkut kehidupan lebih dari 960 ribu kepala keluarga. Dengan demikian ancaman terhadap kelangsungan industri kelapa sawit akan berimbas pada jutaan nasib masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari komoditas ini. Keberhasilan produksi tanaman kelapa sawit sangat tergantung pada aplikasi pemupukan, sehingga timbul pandangan negatif bagi yang kurang memahaminya, yang  mengatakan bahwa tanaman kelapa sawit rakus unsur hara. Pernyataan tersebut tidaklah benar karena tanam­an akan memerlukan hara sebanding dengan output yang dihasilkan. Kebutuhan hara yang tinggi pada tanaman kelapa sawit bertitik tolak dari kenyataan bahwa setiap tahun 1 ha kebun kelapa sawit yang dikelola dengan baik mampu menghasilkan sekitar 25 ton Tandan Buah Segar (TBS) atau setara 5-6 ton CPO. Total biomasa yang dihasilkan kebun kelapa sawit setiap tahunnya mencapai 50 ton berat kering per ha. Keluaran (output) yang besar ini tentu saja tidak cukup dipenuhi oleh hara tanah semata, tetapi menuntut masukan (input) yang juga besar berupa pupuk. Sebagai gambaran bahwa 1 ton TBS mengandung hara setara dengan 6,3 kg urea, 2,1 kg TSP, 7,3 kg MoP, dan 4,9 kg kiserit, selain hara mikro. Dengan demikian dapat dibayangkan berupa besar hara yang terangkut melalaui panen dari areal perkebunan kelapa sawit seluas 1 ha. Tanpa adanya masukan berupa pupuk yang memadai, maka tanah perkebunan tersebut semakin lama akan semakin miskin sehingga tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman untuk berproduksi secara normal. Tulisan ini akan menguraikan berbagai alternatif tindakan untuk mensikapi kelangkaan pupuksecara rasional.  
 Mengatasi kendala angkutan akibat kerusakan jalan dengan paving block
Edy Sigit Sutarta dan Witjaksana Darmosarkoro

    Rendahnya capaian produksi sebagai akibat jalan yang rusak merupakan masalah klasik yang selalu dihadapi pekebun setiap tahun, terutama pada waktu musim hujan. Pada beberapa daerah, panen puncak terjadi pada semester II yang bertepatan dengan musim penghujan. Akibat angkutan buah yang melimpah dan kondisi jalan yang hecek menyebabkan semakin rusaknya jalan. Selain itu pada daerah pengembangan Bering dijumpai areal-areal hiaten berupa rawa-rawa yang menyebabkan rusaknya jalan terutama di musim penghujan. Pada tanah-­tanah tertentu, hambatan angkutan juga berkaitan dengan tingginya kandungan fiat yang menyebabkan jalan sangat licin di waktu hujan sehingga banyak areal tanjakan yang tidak dapal dilalui kendaraan angkutan buah. Kerusakan jalan berkaitan dengan kapasitas angkut kendaraan yang sexing melehihi kemampuan jalan. Padahal angkutan TBS merupakan kegiatan rutin harian. Sementara perbaikan jalan yang dilakukan pekebun Bering tidak tepat waktu, dimana perbaikan jalan seharusnya dilakukan di musim keying atau menjelang musim hujan. Sexing dijumpai pelaksanaan pengerasan yang dilakukan justru setelah.jalan rusak di musim penghujan. Akibatnya batu dan pasir yang ditaburkan pada jalan yang rusak sexing kali terbenam ke dalam tanah, walaupun beberapa truk batu dan pasir telah diteharkan. Kondisi yang sama juga dihadapi oleh Unit Usaha Betung Krawo, PT Perkebunan Nusantara VII. Curah hujan yang tinggi pada tahun 2001 menyebabkan terhambatnya angkutan produksi. Pada Agustus - December 2001 saja curah hujan di kebun tersebut mencapai 1.731 mm. Menghadapi kondisi yang demikian, pada awal 2002 pihak kebun mencoba mencari pemecahannya. Diantaranya dengan menyemen sebagian ruas jalan yang licin seperti halnya membuat jalan beton. Hal tersebut sangat efektif, namun memerlukan biaya tinggi dan selama masa konstruksi sekitar tiga minggu jalan tersebut tidak dapat dilalui. Berdasarkan pengalaman ini muncul ide untuk membuat paving block seperti yang dipasang untuk jalan setapak di perumahan. Setelah melalui pembuatan perdana, uji kekuatan, dan perhitungan biaya maka pembuatan paving block dalam jumlah masal dilakukan. Hasilnya sungguh luar biaya. Jalan yang selama ini sulit dilalui kendaraan pada waktu hujan, dengan adanya paving block tidak menjadi masalah lagi. Menurut ADM dan Asisten Kepala Kebun Betung Krawo yang mengembangkan ide paving block ini, teknik paving block ini sangat membantu mengatasi permasalahan jalan yang selalu dihadapi di kebun BetungKrawo dan sangat mungkin diterapkan untukdaerah lain.

Status dan upaya peningkatan ketersediaan fosfat pada beberapa perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara
Arsyad D. Koedadiri
   Rendahnya capaian produksi sebagai akibat jalan yang rusak merupakan masalah klasik yang selalu dihadapi pekebun setiap tahun, terutama pada waktu musim hujan. Pada beberapa daerah, panen puncak terjadi pada semester II yang bertepatan dengan musim penghujan. Akibat angkutan buah yang melimpah dan kondisi jalan yang hecek menyebabkan semakin rusaknya jalan. Selain itu pada daerah pengembangan Bering dijumpai areal-areal hiaten berupa rawa-rawa yang menyebabkan rusaknya jalan terutama di musim penghujan. Pada tanah-­tanah tertentu, hambatan angkutan juga berkaitan dengan tingginya kandungan fiat yang menyebabkan jalan sangat licin di waktu hujan sehingga banyak areal tanjakan yang tidak dapal dilalui kendaraan angkutan buah. Kerusakan jalan berkaitan dengan kapasitas angkut kendaraan yang sexing melehihi kemampuan jalan. Padahal angkutan TBS merupakan kegiatan rutin harian. Sementara perbaikan jalan yang dilakukan pekebun Bering tidak tepat waktu, dimana perbaikan jalan seharusnya dilakukan di musim keying atau menjelang musim hujan. Sexing dijumpai pelaksanaan pengerasan yang dilakukan justru setelah.jalan rusak di musim penghujan. Akibatnya batu dan pasir yang ditaburkan pada jalan yang rusak sexing kali terbenam ke dalam tanah, walaupun beberapa truk batu dan pasir telah diteharkan. Kondisi yang sama juga dihadapi oleh Unit Usaha Betung Krawo, PT Perkebunan Nusantara VII. Curah hujan yang tinggi pada tahun 2001 menyebabkan terhambatnya angkutan produksi. Pada Agustus - December 2001 saja curah hujan di kebun tersebut mencapai 1.731 mm. Menghadapi kondisi yang demikian, pada awal 2002 pihak kebun mencoba mencari pemecahannya. Diantaranya dengan menyemen sebagian ruas jalan yang licin seperti halnya membuat  Status hara tanah pada beberapa perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara menunjukkan bahwa kandungan fosfat (P) tersedia dan kemasaman (pH H20) tanah tergolong rendah sedangkan kejenuhan aluminium (Al) yang bervariasi dari sedang hingga tinggi. Rendahnya P tersedia di dalam tanah dan perannya yang sangat penting akan mempengaruhi produktivitas tanaman, sehingga perlu upaya peningkatan ketersediaan P di dalam tanah. Pengikatan P dalam tanah dapat dikurangi antara lain dengan penurunan kemasaman dan Al tanah dengan penggunan pupuk yang mengandung Ca, mengurangi kontak P yang lebih besar dengan liat yaitu penaburan pupuk pada tempat terbatas (sempit). Upaya lain adalah dengan pemherian pupuk P cepat tersedia serta peningkatan bahan organik tanah seperti pemberian tandan kosong kelapa sawit (TKS) selain berperan, sebagai sumber hara juga berfungsi sebagai agen pengikat (chelating) Al dan Fe sehingga P tanah akan tersedia. Faktor penyebab rendahnya ketersediaan P di dalam tanah disamping kandungan P total tanah yang rendah, juga erat kaitannya dengan rendahnya pH tanah Yang menyebabkan tingginya kelarutan Al dan Fe yang dapat rnengikat P. Konsentrasi Al yang relatip tinggi di dalam larutan tanah juga merupakan racun bagi tanaman dan sekaligus dapat menghambat perkembangan sistem perakaran tanaman.

 Keselamatan kerja di laboratorium kimia

Eka Nuryanto

   Secara umum bekerja di laboratorium kimia sangat dekat dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan atau dengan kata lain bekerja di laboratorium kimia dikelilingi oleh bahaya. Namun demikian kemungkinan terjadinya kecelakaan maupun bahaya didalam laboratorium dapat dihindari sedini mungkin dengan mengetahui sifat-sifat bahaya, cara pencegahan dan penanggulangannya, serta selalu bekerja dengan hati-hati. 
 


 

 
Pertumbuhan Dan Serapan Hara Bibit Kelapa Sawit Pada Medium Tanam Sub Soil Tanah Typic Paleudult, Typic Tropopsamment Dan Typic Haplidult
Winarna dan E.S. Sutarta
Penelitian penggunaan medium tanam sub soil pada pembibitan utama kelapa sawit telah dilakukan di lokasi pembibitan  kebun Percobaan Aek Pancur.  Medium tanam yang digunakan sebagai perlakuan adalah sub soil tanah Typic  Paleudult, Typic Tropopsamment,  dan Typic Hapludult, yang diambil pada kedalaman 50-100 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan serapan hara bibit umur 11 bulan di pembibitan utama dengan medium sub soil tanah Typic Hapludult secara umum lebih baik dibandingkan perlakuan penggunaan medium sub soil Typic Tropopsamment dan Typic Paleudult, sedangkan pada tanah Typic Paleudult menunjukkan pertumbuhan dan serapan hara bibit yang paling rendah. Kandungan Al tertukar yang cukup tinggi dalam tanah Typic Paleudult menekan pertumbuhan akar bibit dan menurunkan serapan hara bibit. Medium sub soil Typic Hapludult dalam percobaan dapat digunakan sebagai medium alternatif  untuk pembibitan utama kelapa sawit dengan perlakuan pemupukan sesuai dosis dan waktu aplikasi standar pemupukan di pembibitan utama.

 

 

   
 Profil Dan Prospek Pengembangan Industri Kelapa Sawit
Lalang Buana dan Dja'far
Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Indonesia, dengan pangsa pasar yang terus meningkat serta perkembangan permintaan dari Australia, China, Korea, India, Nigeria dan dalam negeri. Dalam upaya pengembangan kelapa sawit para investor perlu menyadari bahwa a) perdagangan minyak sawit dipengaruhi langsung oleh pasar dunia, b) tanaman kelapa sawit adalah tanaman tahunan dengan umur ekonomis 25 tahun, c) banyak ragam industri kelapa sawit. Pelaksanaan investasi untuk perkebunan kelapa sawit harus mengkaji tentang 1) ketersediaan dan  potensi lahan dan sumberdaya lainnya, 2) ketersediaan dan lokasi pasar, 3) persaingan dan keunggulan komparatif Indonesia dan 4) perhitungan rugi laba dari industri yang akan dibangun.  Kontribusi minyak sawit Indonesia terhadap pasar minyak dunia (minyak nabati dan hewani) hanya sekitar 7,5%, sehingga pengaruh Indonesia relatif kecil dan tidak dapat mem-pengaruhi perdagangan minyak dunia. Oleh sebab itu untuk dapat kompetitif dan bertahan dalam industri kelapa sawit, produsen  harus mengefisienkan biaya produksi, meningkatkan produktivitas dan optimasi pemanfaatan sumber daya, serta menguasai pola pemasarannya. Oleh karenanya kerjasama produsen dengan lembaga penelitian sangat penting dalam industri kelapa sawit.

 

 

 

   
 
 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12175
  • Unique Visitor: 3100
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.101
  • Since: 2010-08-18