| Subronto, Adriani Siahaan dan S. Latif |
Asam lemak tidak jenuh (ALTJ) yang tinggi dalam minyak sawit selain memiliki nilai nutrisi yang lebih tinggi juga kegunaan yang lebih luas, oleh karena itu harga jualnyapun lebih tinggi. Selama ini areal perkebunan kelapa sawit tersebar pada areal dengan ketinggian di bawah 400 m di atas permukaan laut (dpl). Kualitas dan kuantitas hasil selain dipengaruhi oleh genetis juga dipengaruhi lingkungan. Semakin tinggi tempat penanaman maka suhu akan semakin rendah, pada suhu rendah ALTJ lebih banyak dihasilkan. Bila kaidah ini berlaku umum maka hal yang sama akan terjadi pada tanaman kelapa sawit, bahan tanaman kelapa sawit yang berkadar ALTJ tinggi kemungkinan dapat diusahakan pada lingkungan yang lebih dingin yaitu pada ketinggian yang lebih dari 400 m di atas permukaan laut(dpl) atau pada lintang yang lebih jauh dari khawasan katulistiwa. Tujuan penelitian ini adalah membahas susunan asam-asam lemak mesokarp kelapa sawit sehubungan dengan tinggi tempat penanaman dalam rangka mengantisipasi pengembangan kelapa sawit ke areal yang kurang sesuai serta memilih bahan tanaman untuk keterbatasan tadi. Ternyata terdapat pengaruh yang nyata dari faktor tunggal ketinggian tempat terhadap hampir semua asam-asam lemak yang dianalisis kecuali untuk asam linolenat (C 18:3) dan total ALTJ tidak nyata. Sedangkan faktor umur berbeda nyata untuk total ALTJ dan asam palmitat (C 16:0). Asam oleat(C 18:1) dan asam linoleat (C 18:2) dipengaruhi oleh faktor ketinggian tempat yang cenderung meningkat dengan meningkatnya ketinggian tempat penanaman. Kadar Asam Lemak Jenuh (ALJ) tertinggi dijumpai pada tanaman umur 8-10 tahun yang ditanam pada ketinggian 0-50 m dpl, penurunan kadar total ALJ nyata terjadi pada kelompok umur ini dengan semakin tingginya tempat penanaman. Kadar total ALJ terendah dijumpai pada tanaman umur 4-6 tahun yang ditanam pada ketinggian di atas 400 m dpl. Kadar asam palmitat (C 16:0) tertinggi dijumpai pada ketinggian penanaman 0-50 m. Pengalaman dari Costa Rica bahwa terdapat beberapa persilangan dengan bapak dari AVROS menghasilkan produksi yang tinggi bila ditanam pada ketinggian 1000-2000 m dpl, dengan demikian terbuka lebar bagi PPKS untuk mengembangkan bahan tanaman kelapa sawit yang dapat ditanam diketinggian di atas 400 m dpl. | Analisis kadar β-Karoten kelapa sawit Tipe Dura Deli dan Dura Dumpy berdasarkan tingkat kematangan Buah | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kematangan buah terhadap kadar b-karoten pada kelapa sawit tipe Dura Deli dan Dura Dumpy yang dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil dan Nutrisi (PHN) PPKS Medan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu tingkat kematangan buah dan varietas. Tingkat kematangan buah terdiri dari usia 4,5; 5,0; 5,5 dan 6,0 bulan sedangkan varietas terdiri dari Dura Deli dan Dura Dumpy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematangan buah yang terbaik terdapat pada perlakuan umur buah 5,5 bulan (A3V2) (571,08 ppm) untuk Dura Dumpy dan 6 bulan (A4V1) (247,03 ppm) untuk Dura Deli. Varietas yang terbaik terdapat pada perlakuan V2 (Dura Dumpy) (344,3 ppm) yang memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata dengan varietas Dura Deli. Sedangkan interaksi pada usia 4,5 bulan menunjukkan kadar b-karoten masih sama | Desain Primer Spesifik untuk deteksi Ganoderma penyebab penyakit busuk pangkal batang pada Tanaman kelapa sawit | | Condro Utomo dan Daisy Tambajong |
Primer set bersifat sensitif dan spesifik dalam reaksi berantai polimerase untuk deteksi Ganoderma, jamur klas basidiomycete penyebab penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit telah didesain berdasarkan variasi sekuen pada daerah internal transcribed spacer (ITS) dari ribosom DNA. Pasangan primer-primer ini menghasilkan pita tunggal berukuran 450 bp untuk primer IT1-IT2 dan 334 bp untuk primer IT1-IT3 hanya bila digunakan DNA Ganoderma isolat kelapa sawit tetapi tidak akan menghasilkan pita apapun bila digunakan DNA jamur sapropitik yang berasosiasi dengan akar sawit. Pada pengujian sampel, Ganoderma isolat kelapa sawit yang terdapat dalam sampel akar yang diambil dari lapang dapat dideteksi dengan PCR sebelum gejala penyakit secara visual terlihat. Metoda PCR ini terbukti merupakan alat yang praktis untuk mendeteksi keberadaan Ganoderma pada akar kelapa sawit. | Pengaruh tinggi tempat penanaman dan umur tanaman terhadap susunan Asam - Asam Lemak Mesokorp kelapa sawit | | Subronto, Adriani Siahaan dan S. Latif |
Asam lemak tidak jenuh (ALTJ) yang tinggi dalam minyak sawit selain memiliki nilai nutrisi yang lebih tinggi juga kegunaan yang lebih luas, oleh karena itu harga jualnyapun lebih tinggi. Selama ini areal perkebunan kelapa sawit tersebar pada areal dengan ketinggian di bawah 400 m di atas permukaan laut (dpl). Kualitas dan kuantitas hasil selain dipengaruhi oleh genetis juga dipengaruhi lingkungan. Semakin tinggi tempat penanaman maka suhu akan semakin rendah, pada suhu rendah ALTJ lebih banyak dihasilkan. Bila kaidah ini berlaku umum maka hal yang sama akan terjadi pada tanaman kelapa sawit, bahan tanaman kelapa sawit yang berkadar ALTJ tinggi kemungkinan dapat diusahakan pada lingkungan yang lebih dingin yaitu pada ketinggian yang lebih dari 400 m di atas permukaan laut(dpl) atau pada lintang yang lebih jauh dari khawasan katulistiwa. Tujuan penelitian ini adalah membahas susunan asam-asam lemak mesokarp kelapa sawit sehubungan dengan tinggi tempat penanaman dalam rangka mengantisipasi pengembangan kelapa sawit ke areal yang kurang sesuai serta memilih bahan tanaman untuk keterbatasan tadi. Ternyata terdapat pengaruh yang nyata dari faktor tunggal ketinggian tempat terhadap hampir semua asam-asam lemak yang dianalisis kecuali untuk asam linolenat (C 18:3) dan total ALTJ tidak nyata. Sedangkan faktor umur berbeda nyata untuk total ALTJ dan asam palmitat (C 16:0). Asam oleat(C 18:1) dan asam linoleat (C 18:2) dipengaruhi oleh faktor ketinggian tempat yang cenderung meningkat dengan meningkatnya ketinggian tempat penanaman. Kadar Asam Lemak Jenuh (ALJ) tertinggi dijumpai pada tanaman umur 8-10 tahun yang ditanam pada ketinggian 0-50 m dpl, penurunan kadar total ALJ nyata terjadi pada kelompok umur ini dengan semakin tingginya tempat penanaman. Kadar total ALJ terendah dijumpai pada tanaman umur 4-6 tahun yang ditanam pada ketinggian di atas 400 m dpl. Kadar asam palmitat (C 16:0) tertinggi dijumpai pada ketinggian penanaman 0-50 m. Pengalaman dari Costa Rica bahwa terdapat beberapa persilangan dengan bapak dari AVROS menghasilkan produksi yang tinggi bila ditanam pada ketinggian 1000-2000 m dpl, dengan demikian terbuka lebar bagi PPKS untuk mengembangkan bahan tanaman kelapa sawit yang dapat ditanam diketinggian di atas 400 m dpl. | Konflik penguasaan lahan pada Perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera | Dalam upaya untuk mencapai kesinambungan usaha agribisnis perkebunan, termasuk kelapa sawit (Elaeis guiniensis), operasionalisasi usahanya harus mampu memberikan kontribusi; selain kepada pemilik modal dan negara juga memberikan suatu manfaat dan rasa kebersamaan dengan masyarakat. Beberapa isu yang mengemuka di kalangan perusahaan perkebunan antara lain adalah penguasaan lahan, pemerataan dan keadilan. Salah satu dari tiga aspek tersebut dipilih untuk dikaji secara mendalam yaitu isu penguasaan lahan yang terkait dengan konflik. Penyebab adanya konflik penguasaan lahan perkebunan antara lain adalah kurang jelasnya status pemilikan lahan sebelum dibangun perkebunan, atau perbedaan persepsi antara pihak perusahaan perkebunan dengan penduduk lokal (setempat) atau pihak-pihak lain. Kondisi ini dapat menyebabkan sebagian anggota masyarakat secara kolektif melakukan klaim terhadap Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit. Tujuan studi ini adalah: a) Mengkaji fenomena konflik penguasaan lahan perkebunan kelapa sawit pada perusahaan besar, dan b) Mengkaji upaya penyelesaian konflik yang telah dilakukan oleh aparat/institusi yang berkompeten. Sampel yang merupakan unit analisis dirinci menjadi yaitu sampel daerah dan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang dipilih secara purposive (purposive sampling), dengan kriteria di dalamnya terjadi konflik penguasaan lahan dengan masyarakat. Analisis yang digunakan adalah metode kualitatif dengan Model Kausal (Causality Model), yaitu merupakan jaringan variabel dan hubungan antar variabel dalam model tersebut. Selanjutnya dibandingkan antara upaya penyelesaian konflik yang seharusnya, dengan upaya penyelesaian yang kenyataannya, das-sain (dilakukan oleh aparat/pihak yang berkompeten). Hasil studi dapat disimpulkan bahwa penyelesaian konflik yang dilakukan oleh pihak berkompeten sejalan dengan yang seharusnya dilakukan, dan hasilnya sebagaian besar sudah dapat dicapai. |
|
|
|
|