Pilihan Bahasa : 

Jurnal Vol 11 No.1 2003

1997 Vol 5, No 1 Apr 1997 Vol 5, No 2 Apr 1997 Vol 5, No 3 Apr 1997
1998 Vol 6, No 1 Apr 1998 Vol 6, No 2 Apr 1998 Vol 6, No 3 Apr 1998
1999 Vol 7, No 1 Apr 1999 Vol 7, No 2 Apr 1999 Vol 7, No 3 Apr 1999
2000 Vol 8, No 1 Apr 2000 Vol 8, No 2 Apr 2000 Vol 8, No 3 Apr 2000
2001 Vol 9, No 1 Apr 2001 Vol 9, No 2-3 Apr 2001  
2002 Vol 10, No 1 Apr 2002 Vol 10, No 2-3 Apr 2002  
2003 Vol 11, No 1 Apr 2003 Vol 11, No 2 Apr 2003 Vol 11, No 3 Apr 2003
2004 Vol 12, No 1 Apr 2004 Vol 12, No 2 Agst 2004 Vol 12, No 3 Des 2004
2005 Vol 13, No 1 Apr 2005 Vol 13, No 2 Agstr 2005 Vol 13, No 3 Des 2005
2006 Vol 14, No 1 Apr 2006 Vol 14, No 2 Agst 2006 Vol 14, No 3 Des 2006
2007 Vol 15, No 1 Apr 2007 Vol 15, No 2 Agst 2007 Vol 15, No 3 Des 2007

 

 

Vol. 11 No. 1

 

 

* Tanaman terhadap Susunan Asam - Asam Lemak Mesokorp kelapa sawit 

* Analisis kadar β-Karoten kelapa sawit Tipe Dura Deli dan Dura Dumpy berdasarkan tingkat kematangan Buah

* Desain Primer Spesifik untuk deteksi Ganoderma penyebab penyakit busuk pangkal batang pada Tanaman kelapa sawit

* Pengaruh tinggi tempat penanaman dan umur tanaman terhadap susunan Asam - Asam Lemak Mesokorp kelapa sawit

* Konflik penguasaan lahan pada Perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera

Tanaman terhadap Susunan Asam - Asam Lemak Mesokorp kelapa sawit 
Subronto, Adriani Siahaan dan S. Latif

Asam lemak tidak jenuh (ALTJ) yang tinggi dalam minyak sawit selain  memiliki nilai nutrisi yang lebih tinggi juga kegunaan yang lebih luas, oleh karena itu harga jualnyapun lebih tinggi. Selama ini areal perkebunan kelapa sawit tersebar pada areal dengan ketinggian di bawah 400 m di atas permukaan laut (dpl). Kualitas dan kuantitas hasil selain dipengaruhi oleh genetis  juga dipengaruhi lingkungan.  Semakin tinggi tempat penanaman maka suhu akan semakin rendah,  pada suhu rendah ALTJ lebih banyak dihasilkan. Bila kaidah ini berlaku umum maka hal yang sama akan terjadi pada tanaman kelapa sawit, bahan tanaman kelapa sawit yang berkadar ALTJ tinggi kemungkinan dapat diusahakan pada lingkungan yang lebih dingin yaitu pada ketinggian yang lebih dari 400 m di atas permukaan laut(dpl) atau pada lintang yang lebih jauh dari khawasan katulistiwa. Tujuan penelitian ini adalah membahas susunan asam-asam lemak mesokarp kelapa sawit sehubungan dengan tinggi tempat penanaman dalam rangka mengantisipasi pengembangan kelapa sawit  ke areal yang kurang sesuai serta memilih bahan tanaman untuk keterbatasan tadi. Ternyata terdapat pengaruh  yang nyata dari faktor tunggal ketinggian tempat terhadap hampir semua asam-asam lemak yang dianalisis kecuali untuk asam linolenat (C 18:3) dan total ALTJ tidak nyata. Sedangkan faktor umur  berbeda nyata untuk total ALTJ dan asam palmitat (C 16:0). Asam oleat(C 18:1)  dan asam linoleat (C 18:2) dipengaruhi oleh faktor ketinggian tempat yang cenderung meningkat dengan meningkatnya ketinggian tempat penanaman. Kadar Asam Lemak Jenuh (ALJ) tertinggi dijumpai pada tanaman umur 8-10 tahun yang ditanam pada ketinggian 0-50 m dpl, penurunan kadar total ALJ nyata terjadi pada kelompok umur ini dengan semakin tingginya tempat penanaman. Kadar total ALJ terendah dijumpai pada tanaman umur 4-6 tahun yang ditanam pada ketinggian di atas 400 m dpl. Kadar asam palmitat (C 16:0) tertinggi dijumpai pada ketinggian penanaman 0-50 m. Pengalaman dari Costa Rica bahwa terdapat beberapa persilangan dengan bapak dari AVROS menghasilkan produksi yang tinggi bila ditanam pada ketinggian 1000-2000 m dpl, dengan demikian terbuka lebar bagi PPKS untuk mengembangkan bahan tanaman kelapa sawit yang dapat ditanam diketinggian di atas 400 m dpl.

Analisis kadar β-Karoten kelapa sawit Tipe Dura Deli dan Dura Dumpy berdasarkan tingkat kematangan Buah
Yusran Pangaribuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kematangan buah terhadap kadar b-karoten pada kelapa sawit tipe Dura Deli dan Dura Dumpy yang dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil dan Nutrisi  (PHN) PPKS Medan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu tingkat kematangan buah dan varietas. Tingkat kematangan buah terdiri dari usia 4,5;  5,0;  5,5 dan 6,0 bulan sedangkan varietas terdiri dari Dura Deli dan Dura Dumpy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematangan buah yang terbaik terdapat pada perlakuan umur buah 5,5  bulan (A3V2) (571,08 ppm) untuk Dura Dumpy dan 6 bulan (A4V1) (247,03 ppm) untuk Dura Deli. Varietas yang terbaik terdapat pada perlakuan V2 (Dura Dumpy) (344,3 ppm) yang memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata dengan varietas Dura Deli. Sedangkan interaksi pada usia 4,5 bulan menunjukkan  kadar b-karoten masih sama
 

Desain Primer Spesifik untuk deteksi Ganoderma penyebab penyakit busuk pangkal batang pada Tanaman kelapa sawit
Condro Utomo dan Daisy Tambajong

Primer set bersifat sensitif dan spesifik dalam reaksi berantai polimerase untuk deteksi Ganoderma, jamur klas basidiomycete penyebab penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit telah didesain berdasarkan variasi sekuen pada daerah internal transcribed spacer (ITS) dari ribosom DNA. Pasangan primer-primer ini menghasilkan pita tunggal berukuran 450 bp untuk primer IT1-IT2 dan 334 bp untuk primer IT1-IT3 hanya bila digunakan DNA Ganoderma isolat kelapa sawit tetapi tidak akan menghasilkan pita apapun bila digunakan DNA jamur sapropitik yang berasosiasi dengan akar sawit. Pada pengujian sampel, Ganoderma isolat kelapa sawit yang terdapat dalam sampel akar yang diambil dari lapang dapat dideteksi dengan PCR sebelum gejala penyakit secara visual terlihat. Metoda PCR ini terbukti merupakan alat yang praktis untuk mendeteksi keberadaan Ganoderma pada akar kelapa sawit.

Pengaruh tinggi tempat penanaman dan umur tanaman terhadap susunan Asam - Asam Lemak Mesokorp kelapa sawit
Subronto, Adriani Siahaan dan S. Latif

Asam lemak tidak jenuh (ALTJ) yang tinggi dalam minyak sawit selain  memiliki nilai nutrisi yang lebih tinggi juga kegunaan yang lebih luas, oleh karena itu harga jualnyapun lebih tinggi. Selama ini areal perkebunan kelapa sawit tersebar pada areal dengan ketinggian di bawah 400 m di atas permukaan laut (dpl). Kualitas dan kuantitas hasil selain dipengaruhi oleh genetis  juga dipengaruhi lingkungan.  Semakin tinggi tempat penanaman maka suhu akan semakin rendah,  pada suhu rendah ALTJ lebih banyak dihasilkan. Bila kaidah ini berlaku umum maka hal yang sama akan terjadi pada tanaman kelapa sawit, bahan tanaman kelapa sawit yang berkadar ALTJ tinggi kemungkinan dapat diusahakan pada lingkungan yang lebih dingin yaitu pada ketinggian yang lebih dari 400 m di atas permukaan laut(dpl) atau pada lintang yang lebih jauh dari khawasan katulistiwa. Tujuan penelitian ini adalah membahas susunan asam-asam lemak mesokarp kelapa sawit sehubungan dengan tinggi tempat penanaman dalam rangka mengantisipasi pengembangan kelapa sawit  ke areal yang kurang sesuai serta memilih bahan tanaman untuk keterbatasan tadi. Ternyata terdapat pengaruh  yang nyata dari faktor tunggal ketinggian tempat terhadap hampir semua asam-asam lemak yang dianalisis kecuali untuk asam linolenat (C 18:3) dan total ALTJ tidak nyata. Sedangkan faktor umur  berbeda nyata untuk total ALTJ dan asam palmitat (C 16:0). Asam oleat(C 18:1)  dan asam linoleat (C 18:2) dipengaruhi oleh faktor ketinggian tempat yang cenderung meningkat dengan meningkatnya ketinggian tempat penanaman. Kadar Asam Lemak Jenuh (ALJ) tertinggi dijumpai pada tanaman umur 8-10 tahun yang ditanam pada ketinggian 0-50 m dpl, penurunan kadar total ALJ nyata terjadi pada kelompok umur ini dengan semakin tingginya tempat penanaman. Kadar total ALJ terendah dijumpai pada tanaman umur 4-6 tahun yang ditanam pada ketinggian di atas 400 m dpl. Kadar asam palmitat (C 16:0) tertinggi dijumpai pada ketinggian penanaman 0-50 m. Pengalaman dari Costa Rica bahwa terdapat beberapa persilangan dengan bapak dari AVROS menghasilkan produksi yang tinggi bila ditanam pada ketinggian 1000-2000 m dpl, dengan demikian terbuka lebar bagi PPKS untuk mengembangkan bahan tanaman kelapa sawit yang dapat ditanam diketinggian di atas 400 m dpl.

Konflik penguasaan lahan pada Perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera
Teguh Wahyono

Dalam upaya untuk mencapai kesinambungan usaha agribisnis perkebunan, termasuk kelapa sawit (Elaeis guiniensis), operasionalisasi usahanya harus mampu memberikan kontribusi; selain kepada pemilik modal dan negara juga memberikan suatu manfaat dan rasa kebersamaan dengan masyarakat. Beberapa isu yang mengemuka di kalangan perusahaan perkebunan antara lain adalah penguasaan lahan, pemerataan dan keadilan. Salah satu dari tiga aspek tersebut dipilih untuk dikaji secara mendalam yaitu isu penguasaan lahan yang terkait dengan konflik. Penyebab adanya konflik penguasaan lahan perkebunan antara lain adalah kurang jelasnya status pemilikan lahan sebelum dibangun perkebunan, atau perbedaan persepsi antara pihak perusahaan perkebunan dengan penduduk lokal (setempat) atau pihak-pihak lain. Kondisi ini dapat menyebabkan sebagian anggota masyarakat secara  kolektif melakukan klaim terhadap Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit. Tujuan studi ini adalah: a) Mengkaji fenomena konflik penguasaan lahan perkebunan kelapa sawit pada perusahaan besar, dan b) Mengkaji upaya penyelesaian konflik yang telah dilakukan oleh aparat/institusi yang berkompeten. Sampel yang merupakan unit analisis dirinci menjadi yaitu sampel daerah dan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang dipilih secara purposive (purposive sampling), dengan kriteria di dalamnya terjadi konflik penguasaan lahan dengan masyarakat. Analisis yang digunakan adalah metode kualitatif dengan Model Kausal (Causality Model), yaitu merupakan jaringan variabel dan hubungan antar variabel dalam model tersebut. Selanjutnya dibandingkan antara upaya penyelesaian konflik yang seharusnya, dengan upaya penyelesaian yang kenyataannya, das-sain (dilakukan oleh aparat/pihak yang berkompeten). Hasil studi dapat disimpulkan bahwa penyelesaian konflik yang dilakukan oleh pihak berkompeten sejalan dengan yang seharusnya dilakukan, dan hasilnya sebagaian besar sudah dapat dicapai.

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 2354
  • Unique Visitor: 775
  • Registered Users: 5
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.99
  • Since: 2010-01-10