Pilihan Bahasa : 

Warta Vol 10 No.2-3 2002

 

2005Vol 13, No 1 Feb 2005Vol 13, No 2 Juni 2005Vol 13, No 3 Oktober 2005 
2004Vol 12, No 1 Feb 2004Vol 12, No 2-3 Okt 2004 
2003Vol 11, No 1 Feb 2003Vol 11, No 2-3 Okt 2003 
2002Vol 10, No 1 Feb 2002Vol 10, No 2-3 Okt 2002 
2001Vol 9, No 1 Feb 2001Vol 9, No 2 Juni 2001 

 

Vol. 10 No. 2-3

 

 

* Industri Kelapa Sawit Indonesia Menapak Dengan Pasti Di Atas Kerikil Tajam 

* Karakteristik Morfologi Plasma Nutfah Kelapa Sawit Origin Binga

* Status K, Ca, Mg Tanah Pada Beberapa Perkebunan Kelapa Sawit Di Sumatera Utara Serta Kebijakan Pemupukan

* Upaya Peningkatan Efisiensi Dan Langkah Alternatif Pemupukan Pada Tanaman Kelapa Sawit

* Strategi Pengendalian Rayap Pada Kelapa Sawit Di Lahan Gambut

* Mengatasi Si "MOMOK" Perkebun Kelap 

Industri Kelapa Sawit Indonesia Menapak Dengan Pasti Di Atas Kerikil Tajam 
Luqman Erningpraja

   Dengan memperhatikan perkembangan produksi minyak nabati lain dan perkembangan permintaan minyak nabati dunia, maka dapat dikatakan prospek minyak sawit di pasar dunia baik untuk minyak makan maupun indutri kimia masih sangat baik. Dakwaan bahwa perkebunan dan industri kelapa sawit adalah merusak lingkungan, yang dapat mengganggu pemasaran minyak sawit dan produk-produk turunannya tidak memiliki dasar yang kuat. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan industri kelapa sawit. Kajian-kajian yang telah dilakukan sejak kelapa sawit di introduksikan ke Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat potensial. Untuk itu, Indonesia perlu memanfaatkan keunggulan komparatif  yang dimiliki secara optimal. Tuduhan yang menyatakan industri kelapa sawit dapat merusak lingkungan, mengakibatkan bencana ekonomi dan sosial juga tidak mempunyai dasar yang kuat, bahkan sebaliknya industri kelapa sawit dapat menanggulangi bencana dan bukan penyebab bencana. 

Karakteristik Morfologi Plasma Nutfah Kelapa Sawit Origin Binga
Lalu Firma Budiman, Dwi Asmono dan Edi Suprianto

   Ketersediaan plasma nutfah merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi keberhasilan perakitan bahan tanaman unggul kelapa sawit. Menyadari hal tersebut Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), bekerjasama dengan beberapa institusi pemuliaan telah melakukan introduksi tanaman yang berasal dari Binga, Zaire pada 1987. Untuk mengetahui sifat unggul yang dimiliki plasma nutfah tersebut, telah dilakukan pengamatan terhadap karakteristik morfologi pada populasi origin Binga. Berdasarkan hasil  pengamatan  terhadap  karakter  vegetatif,  produksi  dan kandungan minyak, diperoleh beberapa famili origin Binga yang memiliki potensi sangat baik sebagai sumber genetik bagi perakitan bahan tanaman unggul. Dalam hal laju pertumbuhan meninggi, famili 1673 merupakan famili yang memiliki laju pertumbahan meninggi yang paling lambat, yaitu di bawah 50 cm per tahun, sedangkan famili 1670 memiliki keunggulan dalam hal rerata bobot tandan, jumlah tandan, dan kandungan inti diatas 10 %. Dalam hal kandungan minyak, famili 1677 dan 1680 merupakan famili yang memiliki karakter komponen kandungan minyak yang cukup baik yang ditandai dengan tingginya nilai rerata persentase mesokarp per buah, persentase minyak per mesokarp, dan persetase minyak per tandan yaitu di atas 26%. 

Status K, Ca, Mg Tanah Pada Beberapa Perkebunan Kelapa Sawit Di Sumatera Utara Serta Kebijakan Pemupukan
Sugiyono, Arsyad D. Koedadiri dan Syamsul Anwar

  Status hara  tanah  pada beberapa perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara menunjukkan bahwa rasio K/Ca/Mg umumnya kurang baik. Rasio Mg/K < 2 mencapai 55%, hal ini memberi indikasi bahwa 55 %  mengalami defisiensi Mg.  Kondisi  optimal rasio Mg/K yaitu (2 - 4) mencakup 39 %, sedangkan rasio  > 4 mencakup 6 % dari total pengamatan. Rasio Ca/K yang berada pada keseimbangan yaitu (6 - 10) mencakup 42 %, sedangkan rasio < 6, dan > 10 berturut-turut mencakup 27 % dan  30 %. Rasio Ca/Mg yang berada pada keseimbangan yaitu (2 - 3) mencakup 33 %, sedangkan rasio (4 – 11) dan < 2 berturut-turut sebesar 61 % dan 6 %. Rasio keseimbangan yang kurang baik tersebut dapat enimbulkan pengaruh antagonis dari ketiga unsur hara tersebut sehingga dapat menye-babkan gejala defisiensi unsur hara. Rasio K/Ca/Mg yang baik (optimal) di dalam tanah adalah sebesar 10/60/30, dimana Mg/K sebesar 3, Ca/K sebesar 6, dan Ca/Mg sebesar 2. Rasio Mg/K > 4 menyebabkan  tanaman mengalami defisiensi K, dan upaya untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan  pemberian pupuk K dosis yang cukup atau dengan mengurangi dosis pupuk Mg sampai taraf tertentu (normal), sedangkan untuk mengatasi defisiensi Mg dapat ditempuh dengan cara yang sama.

Upaya Peningkatan Efisiensi Dan Langkah Alternatif Pemupukan Pada Tanaman Kelapa Sawit
E.S Sutarta dan Winarna

  Upaya peningkatan efisiensi pemupukan harus dilakukan melalui berbagai cara, khususnya peningkatan ketepatan pemupukan dan perbaikan kondisi lahan.  Ketepatan pemupukan mencakup jenis, dosis, waktu dan cara pemupukan, sedangkan perbaikan kondisi lahan dilakukan melalui aplikasi bahan organik dan pengendalian gulma. Selain itu terdapat beberapa langkah alternatif yang dapat ditempuh, seperti: pemilihan jenis pupuk yang ekonomis dan penentuan prioritas tanaman yang segera dipupuk.  Pemilihan jenis pupuk harus selalu mempertimbangkan aspek mutu, ekonomis, dan pertimbangan teknis lain lain seperti kondisi lahan.  Pengurangan dosis pupuk sedapat mungkin tidak dilakukan mengingat pengaruhnya yang tidak menguntungkan terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.  Namun demikian jika jumlah pupuk yang tersedia tidak mencukupi, prioritas tanaman yang perlu segera dipupuk ditentukan dengan mengutamakan tanaman belum menghasilkan, tanaman yang produktivitasnya tinggi, tanaman yang menunjukkan gejala defisiensi berat, dan tanaman pada tanah yang ketersediaan haranya rendah.

Strategi Pengendalian Rayap Pada Kelapa Sawit Di Lahan Gambut
Rolettha Y. Purba, Sudharto PS, dan R. Desmier de Chenon
  Rayap subteran Coptotermes curvignathus  merupakan salah satu serangga hama utama    pada kelapa sawit khususnya di lahan gambut. Serangannya dapat mematikan tanaman dan kasusnya semakin berat dengan diterapkannya teknik zero burning dalam pembukaan lahan. Pengendaliannya sulit dilakukan karena banyaknya sisa kayuan yang merupakan bahan makanan dan tempat berkembangbiak yang sesuai. Selama ini pengendalian dilakukan dengan insektisida. Beberapa insektisida efektif menekan serangan rayap tetapi tidak mampu mencegah reinfestasi baru. Dalam jangka panjang, pengendalian secara kimiawi ini tidak efisien dan dapat mencemari lingkungan. Suatu strategi pengendalian rayap pada kelapa sawit di lahan gambut dapat dilakukan dengan pendekatan ekologi dan hayati serta aplikasi selektif teknik-teknik pengendalian yang kompatibel dan yang memiliki dampak negatif minimal.
Mengatasi Si "MOMOK" Perkebun Kelapa Sawit 
Agus Susanto, Roletha Yahya Purba dan Sudharto Ps

   Budidaya kelapa sawit saat ini tidak semudah pada tahun-tahun 1980-an. Masalah yang dihadapi sangat banyak, baik masalah teknis budidaya maupun masalah sosial. Saat ini tidak mudah lagi mendapatkan lahan yang luas dengan kesesuaian lahan yang baik untuk kelapa sawit. Ditambah lagi  masalah sosial yaitu pertentangan dengan masyarakat adat setempat. Budidaya kelapa sawit saat ini mengalami  masalah yang sangat besar dari segi teknis dan sangat sulit untuk ditangani, sehingga dikenal sebagai momok bagi pekebun kelapa sawit. Siapakah momok bagi pekebun kelapa sawit itu? Bagi para pekebun atau praktisi kelapa sawit pasti setuju menyebut Penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) atau Penyakit Ganoderma sebagai si Momok bagi pekebun kelapa sawit.  Hal ini disebabkan karena tanaman kelapa sawit yang terserang penyakit tersebut, walaupun lambat prosesnya pasti akan mengalami kematian. Masalah tersebut dapat diatasi dengan baik, apabila para pekebun mengenal penyakit ini secara mendalam. Dengan demikian, dapat dilakukan tindakan pengendalian sedini mungkin.

 

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 12792
  • Unique Visitor: 3190
  • Registered Users: 13
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.100
  • Since: 2010-08-18