| Edy Suprianto, Yurna Yenny dan Dwi Asmono |
Memasuki dekade 1990-an pengembangan bahan tanaman kelapa sawit bukan hanya difokuskan pada peningkatan produktivitas minyak, melainkan juga perbaikan kualitas minyak. Hal ini dipicu oleh peningkatan perhatian konsumen minyak nabati terhadap nilai nutrisi minyak makan, dan juga alasan kesehatan. Komponen utama kualitas minyak yang menjadi prioritas utama untuk diperbaiki adalah kandungan asam lemak tak jenuh (ALTJ) khususnya kandungan asam oleat, dan komponen minor minyak sawit, seperti β-caroten. Hasil silang balik BC1 antara hibrida E. oleifera (eks Brazil) x E. guineensis (107-22-32 T sebagai tetua donor) dengan E. guineensis (85-56-56 D sebagai tetua pemulih) menunjukkan kualitas tandan yang baik, dilihat dari komponen rerata bobot tandan, persentase buah per tandan, persentase mesokarp per buah, inti per buah, minyak per mesokarp dan minyak per tandan dari 23 yang masing-masing mencapai 17,71 kg, 62,43 %, 53,06%, dan 22,33%. Sementara, rerata kandungan asam lemak tak jenuh pada populasi BC1 mencapai 48.76%, dengan komponen asam oleat sebesar 39.12 %. Rerata kandungan asam lemak tak jenuh pada populasi BC1 meningkat sebanyak 18 %, bila dibandingkan dengan kandungan asam lemak tak jenuh pada tetua pemulih. Tingkat kandungan beta karoten pada populasi BC1 rata-rata mencapai 1.111,47 ppm, dengan kandungan beta karoten tertinggi yang dimiliki oleh individu mencapai 2.118,63 ppm. | Pengaruh pola pengolalaan perkebunan kelapa sawit terhadap produksi dan harga pokok | | Dja'far Moechtar dan Teguh Wahyono |
Pola pengelolaan berpengaruh terhadap produksi dan pendapatan, karena pola yang berbeda berarti terdapat konsekuensi pada perbedaan penggunaan input. Faktor dominan yang menentukan perbedaan pola pengelolaan kebun adalah sistem pemupukan dan sistem alokasi biaya. Managemen yang menerapkan pemupukan sesuai rekomendasi dan mengefektifkan biaya produksi untuk kegiatan lainnya (secara selektif) akan menghasilkan produksi dan pendapatan yang lebih tinggi. Rata-rata biaya produksi adalah Rp886,55/kg TBS, tetapi biaya produksi antar kebun sangat bervariasi dengan kisaran Rp733,90/kg TBS s/d Rp4.565,50/kg TBS. Akibatnya dengan tingkat harga saat ini masih ada perusahaan yang mengalami kerugian. Produksi berkorelasi negatif dengan biaya produksi, berarti semakin tinggi produksi menyebabkan biaya produksi per kg makin rendah. Luas areal tanaman menghasilkan (TM) juga berkorelasi negatif dengan biaya produksi. Berkenaan dengan perihal biaya produksi, kasus yang spesifik adalah biaya produksi per ha yang rendah tidak diikuti dengan biaya produksi per kg yang rendah, bahkan hasil analisis menunjukkan korelasi negatif. | Adaptasi beberapa persilangan kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan di pembibitan | | Subroto, Nurita, T-Mathius dan Gede Wijana |
Saat ini Indonesia merupakan penghasil minyak kelapa sawit (crude palm oil = CPO) terbesar kedua setelah Malaysia, di lain pihak karena keterbatasan lahan yang sesuai untuk tanaman kelapa sawit maka perluasan dan pengembangan dilakukan pada lahan yang bermasalah antara lain adalah lahan yang sering kali mengalami defisit air. Untuk mendapatkan bahan tanaman yang toleran terhadap cekaman kekeringan, telah dilakukan penelitian menggunakan beberapa persilangan. Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah mendapatkan : (1) Persilangan kelapa sawit yang toleran terhadap cekaman kekeringan, (2) Penanda biokimia dan fisiologi untuk memilih bahan tanaman toleran terhadap kekeringan pada saat dini. Persilangan-persilangan yang penurunan potensial air daunnya relatif rendah adalah persilangan nomor 2 , 8 dan 13. Persilangan-persilangan yang memiliki kadar air daun tinggi pada keadaan tercekam adalah persilangan nomor 8, 13 dan 12. Pengamatan terhadap peubah turgiditas relatif menunjukkan bahwa nilai turgiditas relatif pada kondisi tercekam jauh menurun dibanding perlakuan kontrol. Persilangan–persilangan yang memiliki nilai turgiditas relatif yang tinggi pada saat tercekam kekeringan adalah persilangan nomor 7 dan 2. Hasil pengamatan penanda biokimia prolin menunjukkan terdapat 3 (tiga) kelompok persilangan yang memiliki respon yang beragam terhadap cekaman kekeringan. Kelompok pertama adalah kelompok yang peningkatan kadar prolinnya relatif rendah (< 400 %), yaitu persilangan 2, 12, dan 14 (kontrol). Kelompok kedua adalah kelompok yang peningkatan kadar prolinnya intermedier ( 400 s/d 600 %), yaitu persilangan 1, 5, 6, 7, 8, dan 9. Kelompok ketiga adalah kelompok persilangan yang peningkatan kadar prolinnya tinggi ( > 600 %), yaitu persilangan 3, 11, dan 13. Pada perlakuan cekaman kekeringan hingga 18 hari, kandungan prolin pada persilangan 3 dan 9 masing-masing meningkat 657 % dan 578 % dibandingkan kontrolnya (tanpa dicekam kekeringan), sedangkan persilangan 2 dan 12 masing-masing hanya meningkat 364 % dan 361 %. Hasil elektroforesis menunjukkan bahwa tanaman kelapa sawit yang diberikan perlakuan cekaman kekeringan memberikan respon berupa pembentukan protein spesifik dengan berat molekul 24 dan 60 kDa. Berdasarkan hasil pengamatan dari rangkaian percobaan-percobaan tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa persilangan 3 dan 9 dapat dikatagorikan sebagai tanaman yang mempunyai potensi toleran terhadap kekeringan, sementara yang berpotensi peka adalah persilangan 2 dan 12. Persilangan no.2 dan 3 merupakan persilangan kelapa sawit dengan tetua yang sama [(DA 10 D x DA 8 D) x (LM 9 T x LM 2 T)], sementara itu persilangan 9 dan 12 juga tetuanya sama yaitu [(DA 8 D Self) x (LM 9 T x LM 2T)]. Persilangan-persilangan ini sudah ditanam dilapang dan kebun komersial agar diteruskan pengamatannya untuk kemudian bila produktivitasnya baik dapat dirilis sebagai bahan tanaman kelapa sawit toleran terhadap cekaman kekeringan. Penanda biokimia dan fisiologi yang telah ditetapkan sebagai penciri ketahan terhadap cekaman kekeringan dapat digunakan untuk mengeksplorasi kembali plasma nutfah kelapa sawit yang ada untuk memperoleh bahan tanaman yang toleran terhadap kekeringan. | Karakterissasi fisiologi dan biokimia klon kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan | | Subronto, Nurita, T-Mathius dan Gede Wijana | Perluasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia dibatasi oleh ketersediaan lahan yang layak tanam, karena itu perluasan harus diarahkan pada lahan-lahan marginal dimana pada lokasi tersebut mengalami defisit air ataupun kekeringan. Dalam rangka untuk mendapatkan bahan tanaman kelapa sawit toleran terhadap kekeringan, dua percobaan dilakukan dengan menggunakan klon kelapa sawit pada tahap bibit dengan mengamati peubah biokimia dan fisiologi. Hasil yang diharapkan adalah 1) mendapatkan bahan tanaman klonal kelapa sawit toleran terhadap kekeringan, 2) mendapatkan peubah biokimia dan fisiologi (marka) yang dapat digunakan untuk seleksi dini. Percobaan cekaman kekeringan dilakukan dengan menggunakan tanaman berumur 9-15 bulan yang ditanam di rumah kaca. Tanaman kontrol diairi sampai kapasitas lapang tiap hari dengan potensial air – 0,6 Mpa, sementara tanaman uji dibiarkan kekeringan selama 3, 6, 9, 12, 15, 18 dan 21 hari, tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Respon tanaman terhadap kekeringan dianalisa berdasarkan peubah kadar air daun dan tanah, potensial air daun, turgiditas relatif, luas daun spesifik, gula-gula osmotikum, proline, betaine dan kandungan ABA pada daun. Hasil percobaan menunjukkan bahwa klon yang toleran mempunyai kemampuan untuk mengakumulasi proline dalam konsentrasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan klon yang rentan dalam pengujian kekeringan. Selain itu kadar betaine juga meningkat tetapi tidak setinggi peningkatan proline. Respon klon terhadap ABA menunjukkan bahwa kadar ABA akan meningkat bila dicekam kekeringan. Pengamatan pada gula osmotikum menunjukkan bahwa peubah ini tidak dapat membedakan dengan antara tanaman uji dan kontrol sehingga peubah ini tidak cocok untuk indikator biokimia. Hasil dari percobaan ini mengungkapkan bahwa klon MK 60 dan MK 65 adalah klon-klon yang toleran terhadap kekeringan. | Kajian pola hasil beberapa klon kelapa sawit | | Deviona, Nasrullah, Soemartono, dan Dwi Asmono |
Produksi kelapa sawit berfluktuasi menurut waktu, baik bulanan maupun tahunan, yang berkaitan dengan sifat internal cycle pattern tanaman kelapa sawit dan respon fisiologis tanaman kelapa sawit terhadap lingkungan tumbuhnya terutama terhadap unsur iklim. Kajian pola hasil dilakukan melalui pendekatan model analisis Fourier. Pengujian ini dilakukan terhadap jumlah tandan (tandan/pohon/bulan) enam klon kelapa sawit (MK 10, MK 44, MK 56, MK 58, MK 70, dan MK 87) yang ditanam di dua kebun penanaman yaitu kebun Dolok Sinumbah dan Tanjung Garbus. Percobaan di kebun Dolok Sinumbah dengan tahun tanam 1991 dan pengamatan hasil Januari 1995 – Desember 1999 (60 bulan) sedangkan kebun Tanjung Garbus tahun tanam 1992 dan pengamatan hasil Maret 1996 – Desember 1999 (46 bulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola hasil kelapa sawit mengikuti model Fourier dengan periode berkisar 11-13 bulanan dan masing-masing klon menanggapi lingkungan (waktu) berbeda satu sama lain. Pemilihan MK 44 dapat dilakukan karena memiliki nilai rataan tinggi dan fluktuasi yang relatif kecil. |
|
|
|
|