Pilihan Bahasa : 

Jurnal Vol.10 No.2-3 2002

1997 Vol 5, No 1 Apr 1997 Vol 5, No 2 Apr 1997 Vol 5, No 3 Apr 1997
1998 Vol 6, No 1 Apr 1998 Vol 6, No 2 Apr 1998 Vol 6, No 3 Apr 1998
1999 Vol 7, No 1 Apr 1999 Vol 7, No 2 Apr 1999 Vol 7, No 3 Apr 1999
2000 Vol 8, No 1 Apr 2000 Vol 8, No 2 Apr 2000 Vol 8, No 3 Apr 2000
2001 Vol 9, No 1 Apr 2001 Vol 9, No 2-3 Apr 2001  
2002 Vol 10, No 1 Apr 2002 Vol 10, No 2-3 Apr 2002  
2003 Vol 11, No 1 Apr 2003 Vol 11, No 2 Apr 2003 Vol 11, No 3 Apr 2003
2004 Vol 12, No 1 Apr 2004 Vol 12, No 2 Agst 2004 Vol 12, No 3 Des 2004
2005 Vol 13, No 1 Apr 2005 Vol 13, No 2 Agstr 2005 Vol 13, No 3 Des 2005
2006 Vol 14, No 1 Apr 2006 Vol 14, No 2 Agst 2006 Vol 14, No 3 Des 2006
2007 Vol 15, No 1 Apr 2007 Vol 15, No 2 Agst 2007 Vol 15, No 3 Des 2007

 

 

Vol. 10 No. 2-3

 

*  Aktivitas enzim kitinase dan glukanase agens biokontrol terhadap Ganoderma boninense

* Hiperparasitisme beberapa agens biokontrol thd G. boninense penyebab penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit 

* Keragaan kualitas minyak hasil silang balik BCI antara Elaeis oleifera ex. brasil x E. guineensis

* Pengaruh pola pengolalaan perkebunan kelapa sawit terhadap produksi dan harga pokok

* Adaptasi beberapa persilangan kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan di pembibitan

* Karakterissasi fisiologi dan biokimia klon kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan

* Kajian pola hasil beberapa klon kelapa sawit

Aktivitas enzim kitinase dan glukanase agens biokontrol terhadap Ganoderma boninense
Agus Susanto, Sudharto Ps dan Daisy Tambajong

Salah satu mekanisme penting dalam antagonisme agens biokontrol Trichoderma spp. terhadap jamur patogen adalah hiperparasitisme yang diikuti dengan sekresi enzim kitinase dan glukanase, karena dinding sel jamur patogen mengandung kitin dan glukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas enzim kitinase dan glukanase masing-masing agens biokontrol yang telah dikoleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat agens biokontrol menghasilkan enzim kitinase dan glukanase. Agens biokontrol yang mempunyai aktivitas enzim kitinase tertinggi yaitu G. viride isolat no. 9 dengan aktivitas 0.1156 mmol/ml/jam sedangkan yang mempunyai aktivitas enzim glukanase tertinggi yaitu isolat T. viride no. 18 dengan aktivitas 1.0886 mmol/ml/jam.

Hiperparasitisme beberapa agens biokontrol thd G. boninense penyebab penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit 
Agus Susanto, Sudharto Ps dan Daisy Tambajong

Trichoderma dan Gliocladium merupakan agens biokontrol yang potensial terhadap Ganoderma boninense penyebab penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit. Informasi detail tentang mekanisme agens biokontrol terhadap G. boninense akan sangat membantu strategi aplikasinya di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu mekanisme antagonisme Trichoderma harzianum, Trichoderma viride, dan Gliocladium viride adalah sebagian besar melalui mikoparasitisme dengan cara melilit hifa G. boninense kemudian mengeluarkan enzim kitinase dan glukanase.

Keragaan kualitas minyak hasil silang balik BCI antara Elaeis oleifera ex. brasil x E. guineensis

Edy Suprianto, Yurna Yenny dan Dwi Asmono

Memasuki dekade 1990-an pengembangan bahan tanaman kelapa sawit bukan hanya difokuskan pada peningkatan produktivitas minyak, melainkan juga perbaikan kualitas minyak. Hal ini dipicu oleh peningkatan perhatian konsumen minyak nabati terhadap nilai nutrisi minyak makan, dan juga alasan kesehatan. Komponen utama kualitas minyak yang menjadi prioritas utama untuk diperbaiki adalah kandungan asam lemak tak jenuh (ALTJ) khususnya kandungan asam oleat, dan komponen minor minyak sawit, seperti β-caroten. Hasil silang balik BC1 antara hibrida E. oleifera (eks Brazil) x E. guineensis (107-22-32 T sebagai tetua donor) dengan E. guineensis (85-56-56 D sebagai tetua pemulih) menunjukkan kualitas tandan yang baik, dilihat dari komponen rerata bobot tandan, persentase buah per tandan, persentase mesokarp per buah, inti per buah,  minyak per mesokarp dan minyak per tandan dari 23 yang  masing-masing mencapai 17,71 kg, 62,43 %,  53,06%, dan 22,33%. Sementara, rerata kandungan asam lemak tak jenuh pada populasi BC1 mencapai 48.76%, dengan komponen asam oleat sebesar 39.12 %.  Rerata kandungan asam lemak tak jenuh pada populasi BC1 meningkat sebanyak 18 %, bila dibandingkan dengan kandungan asam lemak tak jenuh pada tetua pemulih. Tingkat kandungan beta karoten pada populasi BC1 rata-rata mencapai 1.111,47 ppm, dengan kandungan beta karoten tertinggi yang dimiliki oleh individu  mencapai 2.118,63 ppm.

Pengaruh pola pengolalaan perkebunan kelapa sawit terhadap produksi dan harga pokok
Dja'far Moechtar dan Teguh Wahyono

Pola pengelolaan berpengaruh terhadap produksi dan pendapatan, karena pola yang berbeda berarti terdapat konsekuensi pada perbedaan penggunaan input. Faktor dominan yang menentukan perbedaan pola pengelolaan kebun adalah sistem pemupukan dan sistem alokasi biaya. Managemen yang menerapkan pemupukan sesuai rekomendasi dan mengefektifkan biaya produksi untuk kegiatan lainnya (secara selektif) akan menghasilkan produksi dan pendapatan yang lebih tinggi. Rata-rata biaya produksi adalah Rp886,55/kg TBS, tetapi biaya produksi antar kebun sangat bervariasi dengan kisaran  Rp733,90/kg TBS s/d Rp4.565,50/kg TBS. Akibatnya dengan tingkat harga saat ini masih ada perusahaan yang mengalami kerugian. Produksi berkorelasi negatif dengan biaya produksi, berarti semakin tinggi produksi  menyebabkan biaya produksi per kg makin rendah. Luas areal tanaman menghasilkan (TM) juga berkorelasi negatif dengan biaya produksi.  Berkenaan dengan perihal biaya produksi, kasus yang spesifik adalah biaya produksi per ha yang rendah tidak diikuti dengan biaya produksi per kg yang rendah, bahkan hasil analisis menunjukkan korelasi negatif.
 

Adaptasi beberapa persilangan kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan di pembibitan
Subroto, Nurita, T-Mathius dan Gede Wijana

Saat ini Indonesia merupakan penghasil minyak kelapa sawit (crude palm oil = CPO) terbesar kedua setelah Malaysia, di lain pihak karena keterbatasan lahan yang sesuai untuk tanaman kelapa sawit maka perluasan dan pengembangan dilakukan pada lahan yang bermasalah antara lain adalah lahan yang sering kali mengalami defisit air. Untuk mendapatkan bahan tanaman yang toleran terhadap cekaman kekeringan, telah dilakukan penelitian menggunakan beberapa persilangan. Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah mendapatkan : (1) Persilangan kelapa sawit yang toleran terhadap cekaman kekeringan, (2) Penanda biokimia  dan fisiologi untuk memilih bahan tanaman toleran  terhadap kekeringan  pada saat dini. Persilangan-persilangan yang penurunan potensial air daunnya relatif rendah adalah persilangan nomor 2 , 8 dan 13. Persilangan-persilangan yang memiliki kadar air daun tinggi pada keadaan tercekam adalah persilangan nomor 8, 13 dan 12. Pengamatan terhadap peubah turgiditas relatif  menunjukkan bahwa nilai turgiditas relatif pada kondisi tercekam jauh menurun dibanding perlakuan kontrol. Persilangan–persilangan yang memiliki nilai turgiditas relatif yang tinggi pada saat tercekam kekeringan adalah persilangan nomor 7 dan 2. Hasil pengamatan penanda biokimia prolin menunjukkan terdapat 3 (tiga) kelompok persilangan yang memiliki respon yang beragam terhadap cekaman kekeringan. Kelompok pertama adalah kelompok yang peningkatan kadar prolinnya relatif rendah (< 400 %), yaitu persilangan  2, 12, dan 14 (kontrol). Kelompok kedua adalah kelompok yang peningkatan kadar prolinnya intermedier ( 400 s/d 600 %), yaitu persilangan  1, 5, 6, 7, 8, dan 9. Kelompok ketiga adalah kelompok persilangan yang peningkatan kadar prolinnya tinggi ( > 600 %), yaitu persilangan  3, 11, dan 13. Pada perlakuan cekaman kekeringan hingga 18 hari, kandungan prolin pada persilangan 3 dan 9 masing-masing meningkat 657 % dan 578 % dibandingkan kontrolnya (tanpa dicekam kekeringan), sedangkan persilangan 2 dan 12 masing-masing hanya meningkat 364 % dan 361 %.  Hasil elektroforesis menunjukkan bahwa tanaman kelapa sawit yang diberikan perlakuan cekaman kekeringan memberikan respon berupa pembentukan protein spesifik dengan berat molekul 24 dan 60 kDa. Berdasarkan hasil pengamatan dari rangkaian percobaan-percobaan  tersebut  di atas maka dapat dikatakan  bahwa persilangan 3 dan 9 dapat dikatagorikan sebagai tanaman yang mempunyai potensi toleran terhadap kekeringan, sementara yang berpotensi peka adalah persilangan 2 dan 12.  Persilangan no.2 dan 3 merupakan persilangan kelapa sawit dengan tetua yang sama [(DA 10 D x DA 8 D) x (LM 9 T x LM 2 T)], sementara itu persilangan 9 dan 12 juga tetuanya sama yaitu [(DA 8 D Self) x (LM 9 T x LM 2T)]. Persilangan-persilangan ini sudah ditanam dilapang dan kebun komersial agar diteruskan pengamatannya untuk kemudian bila produktivitasnya baik dapat dirilis sebagai bahan tanaman kelapa sawit toleran terhadap cekaman kekeringan. Penanda biokimia dan fisiologi  yang telah ditetapkan sebagai penciri ketahan terhadap cekaman kekeringan dapat digunakan untuk mengeksplorasi kembali plasma nutfah kelapa sawit yang ada untuk memperoleh bahan tanaman yang toleran terhadap kekeringan.

Karakterissasi fisiologi dan biokimia klon kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan
Subronto, Nurita, T-Mathius dan Gede Wijana
Perluasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia dibatasi oleh ketersediaan lahan yang layak tanam, karena itu perluasan harus diarahkan pada lahan-lahan marginal dimana pada lokasi tersebut mengalami defisit air ataupun kekeringan. Dalam rangka untuk mendapatkan bahan tanaman kelapa sawit toleran terhadap kekeringan, dua percobaan dilakukan dengan menggunakan klon kelapa sawit pada tahap bibit dengan mengamati peubah biokimia dan fisiologi. Hasil yang diharapkan adalah 1) mendapatkan bahan tanaman klonal kelapa sawit toleran terhadap kekeringan, 2) mendapatkan peubah biokimia dan fisiologi (marka) yang dapat digunakan untuk seleksi dini. Percobaan cekaman kekeringan dilakukan dengan menggunakan tanaman berumur 9-15 bulan yang ditanam di rumah kaca. Tanaman kontrol diairi sampai kapasitas lapang tiap hari dengan potensial air – 0,6 Mpa, sementara tanaman uji dibiarkan kekeringan selama 3, 6, 9, 12, 15, 18 dan 21 hari, tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Respon tanaman terhadap kekeringan dianalisa berdasarkan peubah kadar air daun dan tanah, potensial air daun, turgiditas relatif, luas daun spesifik, gula-gula osmotikum, proline, betaine dan kandungan ABA pada daun. Hasil percobaan menunjukkan bahwa klon yang toleran mempunyai kemampuan untuk mengakumulasi proline dalam konsentrasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan klon yang rentan dalam pengujian kekeringan. Selain itu kadar betaine juga meningkat tetapi tidak setinggi peningkatan proline. Respon klon terhadap ABA menunjukkan bahwa kadar ABA akan meningkat bila dicekam kekeringan. Pengamatan pada gula osmotikum menunjukkan bahwa peubah ini tidak dapat membedakan dengan antara tanaman uji dan kontrol sehingga peubah ini tidak cocok untuk indikator biokimia. Hasil dari percobaan ini mengungkapkan bahwa klon MK 60 dan MK 65 adalah klon-klon yang toleran terhadap kekeringan.
Kajian pola hasil beberapa klon kelapa sawit
Deviona, Nasrullah, Soemartono, dan Dwi Asmono

Produksi kelapa sawit berfluktuasi menurut waktu, baik bulanan maupun tahunan, yang berkaitan dengan sifat internal cycle pattern tanaman kelapa sawit dan respon fisiologis tanaman kelapa sawit terhadap lingkungan tumbuhnya terutama terhadap unsur iklim. Kajian pola hasil dilakukan melalui pendekatan model analisis  Fourier. Pengujian ini dilakukan terhadap jumlah tandan (tandan/pohon/bulan) enam klon kelapa sawit (MK 10, MK 44, MK 56, MK 58, MK 70, dan MK 87) yang ditanam di dua kebun penanaman yaitu kebun Dolok Sinumbah dan Tanjung Garbus. Percobaan di kebun Dolok Sinumbah dengan tahun tanam 1991 dan pengamatan hasil Januari 1995 – Desember 1999 (60 bulan) sedangkan kebun Tanjung Garbus tahun tanam 1992 dan pengamatan hasil Maret 1996 – Desember 1999 (46 bulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola hasil kelapa sawit mengikuti model Fourier dengan periode berkisar 11-13 bulanan dan masing-masing klon menanggapi lingkungan (waktu) berbeda satu sama lain. Pemilihan MK 44 dapat dilakukan karena memiliki nilai rataan tinggi dan fluktuasi yang relatif kecil.

 

 
 

 

Next Event

EXHIBITION & SPONSORSHIP

International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia

IOPC will hold and exhibition to provide the opportunities for the participants to view and discuss and to do business transactions of the state of art equipment, product and services related to palm oil industry. It is expected to have 100 booths of various companies and institution from local and overseas....More

 

 

FIRST ANNOUNCEMENT
International Oil Palm Conference 2010 (IOPC 2010)
June 1-3, 2010 Jogja Expo Center, Yogyakarta, Indonesia
"Transforming Oil Palm Industry"
The International Oil Palm Conference (IOPC), a quadrennial event organized by the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), has consistently booked increasing success since it was started in 1998. The 3rd IOPC 2006 was attended by 785 participants from 15 countries and held 75 Exhibition booths. IOPC is chartered to bring on. ...More

 

 

Statistik

  • Site Counter: 1738
  • Unique Visitor: 621
  • Registered Users: 5
  • Unregistered Users: 0
  • Published Nodes: 158
  • Unpublished Nodes: 0
  • Your IP: 38.107.191.95
  • Since: 2010-01-10