| Winarna, E. S. Sutarta, dan S. Rahutomo |
Upaya pemanfaatan tanah Oxisol secara optimal, khususnya untuk pengembangan tanaman kelapa sawit memerlukan pemahaman yang tepat dan menyeluruh mengenai karakteristik tanah tersebut. Dalam rangka mengetahui karakteristik Oxisol dan kesesuaiannya untuk pengembangan tanaman kelapa sawit, maka telah dilakukan studi di Perkebunan Pelaihari Kalimantan Selatan pada Maret 2002. Hasil studi menunjukkan bahwa tanah Oxisol di Perkebunan Pelaihari berkembang pada wilayah datar-berombak dengan fisiografi lipatan berbahan induk batuan ultra basis. Tipe iklim menurut Scmidth dan Ferguson tergolong B dengan curah hujan tahunan sebesar 2.804 mm/tahun. Klasifikasi tanah Oxisol tersebut dalam tingkat famili dikelompokan dalam kelas Rhodic Hapludox – halus – campuran – isohipertermik. Warna tanah coklat gelap kemerahan (2,5YR 2,5/4) hingga merah ungu (10R 3/2). Tekstur tanah lempung liat berpasir, struktur gembur, dan mempunyai sifat tiksotropik. Warna merah dan sifat tiksotropik erat hubungannya dengan tingginya kandungan oksida besi. Kandungan hara makro tanah yang meliputi N, P, K, Ca, dan Mg tergolong rendah-sedang. Kelas kesesuaian lahan untuk kelapa sawit pada tanah ini tergolong S3 (sesuai marjinal). Pemanfaatan tanah Oxisol untuk pengembangan kelapa sawit, khususnya di kebun Pelaihari, harus diikuti dengan upaya untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah. Upaya tersebut di antaranya adalah penanaman tanaman kacangan penutup tanah, pemupukan, dan aplikasi bahan organik. Dengan berbagai perbaikan kondisi tanah tersebut maka produktivitas tanaman kelapa sawit yang diusahakan pada tanah Oxisol di kebun Pelaihari rata-rata mencapai 20 ton TBS/ha/th selama satu siklus tanaman kelapa sawit (25 tahun). | Sistem reproduksi betina Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae) dari bebagai populasi berbeda di perkebunan kelapa sawit | | Sat Rahayuwati, R. Desmier de Chenon dan Sudharto Ps |
Oryctes rhinoceros mempunyai dua buah ovarium dengan enam ovariole untuk masing-masing ovarium. Ovarium ini berfungsi sebagai organ penghasil telur. Pada saat perkawinan, sperma dari jantan akan disimpan di spermateka betina kemudian akan masuk ke dalam fecundition canal untuk memasuki tahap pematangan. Pengamatan dibawah mikroskop menunjukkan adanya sperma disepanjang saluran fecundition canal. Organ reproduksi yang lain adalah colateral gland yang berisi material seperti pasta yang berfungsi untuk melapisi permukaan terlur. Bentuk colateral gland dapat berupa bulatan besar penuh berisi material pasta, kempes tanpa material pasta atau kempes dengan sedikit material pasta. Saat telur siap diletakkan akan mendapatkan sperma dari fecundition canal dan dilapisi dengan material pasta dari colateral gland. Betina O. rhinoceros yang sudah pernah kawin dapat dideteksi dari fecunditon canal yakni terdapat titik-titik hitam sepanjang saluran atau titik-titik hanya terdapat pada pangkalnya saja. O. rhinoceros yang sedang makan pada kelapa sawit 90% merupakan imago betina dengan jumlah telur besar antara 0-10 buah, sedangkan imago betina dari populasi ferotrap berisi feromon+tankos dan ferotrap berisi feromon hanya 65% dan 61%. Imago betina dapat melakukan perkawinan walaupun belum mempunyai telur besar dan baru keluar dari kokon. | Diversitas genetik plasma nutfah kelapa sawit tenera origin binga | | Yurna Yenni, Lalu Firma Budiman, Jayusman, dan Dwi Asmono |
Evaluasi keragaman genetik dilakukan pada plasma nutfah kelapa sawit populasi Binga. Pola pita hasil Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) digunakan untuk mempelajari keragaman genetik 24 individu dari 12 famili pada populasi tersebut. Sejumlah 21 primer digunakan dalam proses RAPD, yaitu OPR-11, OPG-01, OPG-05, OPD-03, OPD-05, OPD-15, OPH-02, OPH-09, OPM-04, OPM-16, OPM-20, OPN-03, OPN-10, OPN-12, OPN-20, OPO-06, OPO-11, OPO-13, OPO-16, OPO-19, dan OPO-20. Kesamaan genetik antar individu di dalam populasi diduga berdasarkan data RAPD dengan menggunakan koefisien Dice. Eksplorasi data lebih lanjut dilakukan dengan analisis gerombol (cluster) dengan metode Unweighted Pair-Group Method Arithmetic (UPGMA). Seluruh analisis data dibantu program Numerical Taxonomy System (NTSys) versi 2.02. Dendogram pada nilai kesamaan genetik 36% menghasilkan lima kelompok. | Uji stabilitas beberapa klon kelapa sawit melalui pendekatan model fourier | | Deviona, Nasrullah, Soemartono, dan Dwi Asmono | Analisis stabilitas pada tanaman kelapa sawit yang memiliki sifat internal cycle pattern dilakukan melalui pendekatan model analisis Fourier dan nilai koefisisen determinasi dengan menggunakan data produksi berat tandan bulanan per pohon enam klon kelapa sawit (MK 10, MK 44, MK 56, MK 58, MK 70, dan MK 87) yang ditanam di dua lokasi penanaman yaitu kebun Dolok Sinumbah dan Tanjung Garbus. Percobaan di kebun Dolok Sinumbah dengan tahun tanam 1991 dan pengamatan hasil Januari 1995 – Desember 1999 (60 bulan) dan kebun Tanjung Garbus tahun tanam 1992 dan pengamatan hasil Maret 1996 – Desember 1999 (46 bulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola hasil kelapa sawit mengikuti model Fourier dengan periode berkisar 11-12 bulanan dan masing-masing klon menanggapi lingkungan (waktu) berbeda satu sama lain. Pemilihan berdasar model Fourier dapat dilakukan dengan melihat nilai rataan tinggi dan amplitudo yang kecil. Bila ditinjau dari kestabilan, MK 70 memiliki nilai koefisien determinasi yang relatif tinggi.
| Dayasaing produk lemak alkohol indonesia dan strategi peningkatannya | | Rohayati Suprihatini, dan Tjahyono Herawan | Pada tahun 2000, Indonesia merupakan negara pengekspor lemak alkohol di peringkat lima di dunia dengan pangsa ekspor sebesar 7,7%. Tulisan ini menyampaikan analisis dayasaing dari produk lemak alkohol Indonesia dengan menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil analisis menunjukkan bahwa lemak alkohol Indonesia masih memiliki dayasaing baik komparatif maupun kompetitif. Namun demikian, masih terdapat peluang-peluang untuk meningkatkan dayasaing produk tersebut melalui perbaikan kebijakan fiskal. Pemerintah perlu peninjauan kembali terhadap besarnya tarif impor dan pajak pertambahan nilai pada sejumlah input tradable yang digunakan dalam proses produksi lemak alkohol di Indonesia. |
|
|
|
|